Alasan lain aku mau menulis hal ini selain untuk produktif adalah tulisanku sulit untuk tembus ke media manapun karena terlalu payah, jadi biarlah aku produktif di blogku sendiri.
Kegelisahan pertama yang akan kutuliskan hari ini adalah mengenai aku yang baru sadar beberapa waktu ini, jika dalam beberapa waktu seringkali aku bahagia ketika melihat orang lain bahagia.
Kasus pertama ketika aku menyadari hal ini adalah ketika suatu hari, pacarku tengah mengantarku dalam perjalanan pulang ke rumah (Rancaekek) dan tiba-tiba saja motor yang kami kendarai agak bermasalah karena suaranya menjadi berbeda (setidaknya itu yang aku pahami, suara motor berbeda = motor bermasalah). Dan pacarku bilang motornya memang menjadi agak tidak nyaman untuk dikendarai. Saat itu sudah menjelang malam dan langit sudah menggelap, tidak biasanya dia mengantarku sampai malam begitu. Akhirnya mencegah mogok di tengah jalan kami memutuskan untuk kembali ke jalan yang telah dilewati sebelumnya karena ia melihat ada bengkel yang buka di sana.
Sampai di bengkel yang entah di daerah mana itu (aku buta jalan), ia langsung menemui seorang montir tua yang aku pikir mirip dia ketika tua nanti (paham motor, kurus, suka memakai jins dan kaos hitam). Mereka mulai membicarakan hal-hal tentang motor yang tidak aku mengerti. Aku sejujurnya tidak begitu suka bengkel, karena bengkel nyaris tidak pernah menyediakan tempat duduk untuk kami, para wanita (atau penumpang motor) sehingga kami harus berusaha mencari tempat duduk sendiri dan seperti yang kita ketahui bersama, ketika motor masuk bengkel, tidak mungkin kita hanya sebentar di sana.
Pacarku sendiri, setiap membengkel bersamaku, seringkali lebih memilih bersama motornya karena katanya takut bengkel melakukan hal-hal curang pada motornya, seperti mencuri perintilan motornya yang kecil-kecil tapi penting atau apalah. Dan aku terpaksa harus menyibukkan diri (yang terkadang aku juga ikut memperhatikan proses perbaikan motornya).
Saat itu sudah malam, aku terpaksa pulang terlambat dan harus menunggu berjam-jam sampai motor selesai diperbaiki, harusnya aku kesal bukan? Ternyata tidak. Aku menikmati setiap menitnya walaupun sesekali jenuh, dan yang paling membuatku bingung adalah ketika aku merasa senang ketika melihat pacarku, berdiri di samping motornya, mengobrol dengan montir dan tersenyum ketika melakukan obrolan yang hanya mereka mengerti sendiri, dan ketika pacarku bilang "Aku jadi punya kenalan baru di sini." aku juga ikut merasa senang, karena aku tahu segala yang berkaitan dengan motor membuat ia selalu tertarik.
Malam itu, ketika ia minta maaf karena membuatku terlambat pulang, aku hanya tersenyum dan bilang "Gapapa kok!".
Kasus kedua masih berkaitan dengan pacarku. Kami sering sekali teleponan ketika waktu senggang. Suatu hari ia sedang menonton serial kartun favoritnya, The Amazing World of Gumball. Pertama kali aku mencoba menonton kartun itu, responku adalah: "Apaan sih ga rame, gajelas, tokohnya aja gambarnya beda-beda, ngewa". Tapi pacarku suka sekali dengan kartun ini, ia sering tertawa dan berkata "Hahahaha, liat, ga jelas pisan". Aku menyimak dengan tatapan datar dan mulai berpikir apa kotak tertawaku rusak?
Tapi yang membuatku lagi-lagi bingung adalah, aku merasa senang mendengar dia tertawa. Dan aku selalu senang karena aku tahu dia sedang senang juga. Sampai sekarang pun aku suka sekali mendengar dia tertawa, walaupun bukan karena Gumball, kartun kucing aneh yang memiliki ayah seorang kelinci, ibu kucing, saudara perempuan kelinci dan ikan yang berkaki.
















































