Showing posts with label Flash Fiction. Show all posts
Showing posts with label Flash Fiction. Show all posts

Thursday, 1 February 2018

Gitar

Aku memandang gadis itu, senyumku tanpa sengaja sudah bertandang di wajah. Dia menatap tangan kanannya yang tak kunjung benar memainkan enam senar dengan nada berbeda itu.

"No! Not like that!" ujarku padanya sambil terkekeh.

"Oh, god. I think i can't handle this." ia ikut terkekeh. Ini yang aku suka tentang dia, dalam keadaan apapun, senyum semanis madu itu tak pernah hilang dari wajahnya.

Aku kembali menunjukkan langkah-langkah kecil agar dia mengerti bagaimana cara memainkan alat musik itu dengan benar. Ia mengangguk kecil dan mulai bermain lagi. Suaranya kini sudah mulai berirama. Aku terpejam sejenak, menikmati nada-nada indah yang terdengar dari petikan gitarnya.

"You heard that? I can! It sounds pretty good right?" ia tertawa. Aku membuka mataku perlahan.

Astaga.

Nada seindah manapun tidak bisa mengalahkan indah wajahnya ketika tersenyum hanya untukku.

Thursday, 29 September 2016

Utakata

Aku mengenal salah seorang gadis dari sebuah chat room di salah satu sosial media ternama. Aku sama sekali tidak tahu tentangnya, kecuali satu, bahwa dia gadis yang menyenangkan. Seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Selain di grup, aku mulai melakukan private chat juga dengannya. Berbicara dengannya selalu bisa menghiburku, padahal kami tidak saling mengenal dalam arti yang sebenarnya. Maksudku, kami belum pernah bertemu. Aku hanya tau wajahnya dari foto profil yang dia pakai. Di foto itu ia tampak tersenyum bahagia, rambutnya tergerai sampai bahu dan mengenakan topi rajutan berwarna merah marun. Selama kami melakukan chat, dia tidak pernah sekalipun mengganti fotonya itu. Jadi hanya wajah itu yang aku tahu.

Kemudian tanpa sadar aku mulai tertarik dengan gadis ini. Belum suka, hanya tertarik. Dan akhirnya suatu hari dengan niat 'iseng' aku bilang aku menyukainya dan ingin jadi kekasihnya. Tanpa diduga, dia mau. Niat main-mainku disambut baik olehnya. Alasannya cuma ada dua pikirku: 1. Dia terlalu polos; 2. Dia juga hanya main-main denganku. Tapi masa bodoh, hubungan ini akan tetap aku jalani.

***

Duabelas bulan kami melakukan pacaran jarak jauh. Ah, mungkin bukan pacaran jarak jauh, tapi pacaran di dunia maya. Kami tidak pernah bertemu karena jarak kota kami yang berjauhan. Selisih tiga kota. Tapi biarpun begitu, duabelas bulan ini sangat cukup untuk mengenal dia. Dia manis, lucu, perhatian dan hampir selalu ceria, walaupun kadang dia bisa jadi sangat pencemburu dan sering marah padaku. Tapi sungguh, walaupun begitu, aku benar-benar menyukainya kali ini. Benar-benar menyukainya.

***

Hubungan kami berjalan seperti biasa sampai suatu hari menjelang akhir tahun, ia tiba-tiba mengajakku bertemu. Aku kaget tentu.

"Aku belum bisa menemuimu. Jarak kota kita cukup jauh, Anya."

"Kalau begitu biar aku yang datang padamu."jawabnya dari seberang telepon dengan nada memelas. "Hanya berikan alamatmu."

"Jangan bercanda! Kau ini seorang gadis. Mana mungkin bisa pergi sejauh itu sendirian?" ujarku agak kesal karena sikap keras kepalanya.

"Aku tidak bercanda!" bentaknya. "Aku perlu menemuimu sekarang juga, Dinan!"

Aku menghela nafas. Ini tidak akan pernah selesai.

"Baiklah, akan kukirimi alamatku." jawabku pasrah. Toh, dia tidak akan benar-benar datang kan?

***

Esoknya, pukul satu siang, aku menerima pesan dari Anya.

'Aku ada di pusat kota. Bisa kah kau datang sekarang? Jangan lama!'

Aku terenyak. Apa-apaan ini. Dia benar-benar datang kemari?

Aku bergegas mengambil jaket, dan tanpa mengganti pakaianku aku langsung berangkat saat itu juga.

***

Anya ada di sana. Menggunakan dress selutut berwarna peach, kardigan putih dan topi rajut berwarna putih, sebuah tas kecil dan juga flatshoes. Dia melihatku dan melambaikan tangannya dengan bersemangat. Aku pun menghampirinya. Dan saat aku sampai, ia langsung menatap aku lekat-lekat.

"Jadi, ini pacarku?" ujarnya sambil tersenyum. Jujur, aku tidak bisa langsung menjawab. Aku salah tingkah dan mulai menggaruk belakang kepalaku yang tidak gatal.

"Aku kira kau tidak akan datang, Nan." ujarnya lagi. Aku mulai memperhatikannya. Dia tampak sama seperti Anya yang ada di foto, bedanya, rambutnya lebih pendek, jauh lebih pendek.

"Tentu saja aku harus datang." jawabku akhirnya sambil memalingkan tatapanku dari rambutnya. "Bagaimana kau bisa sampai disini? Apa kau sendirian?"

"Aku menggunakan aplikasi maps untuk bisa sampai disini. Agak sulit mendapat angkutan umum yang sesuai, tapi akhirnya aku sampai. Dan, ya, aku sendirian." ujarnya.

"Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?" jawabku masih agak bingung dengan sikapnya.

"Yang akan kita lakukan?" jawab Anya. "Tentu saja kau harus mengajak aku kencan! Aku jauh-jauh datang kemari bukan untuk dapat mengabaianmu, Dinan."

Jadi dia datang untukku. Ah, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak pernah mengalam situasi seperti ini. Dia membuat seolah jarak diantara kami selama ini tidak ada artinya. Kami baru bertemu, jelas aku sangat gugup sekarang. Tapi dia menunjukkan sikap biasa saja seolah dia teman lamaku. Tapi bagaimana pun juga sebagai laki-laki, aku harus memutuskan sekarang juga.

"Baik. Ayo kita kencan. Untung aku membawa dompet, kalau tidak aku pasti sudah mengemis padamu, Anya." candaku. Ia tertawa. Pendekatan pertama berhasil.

"Jadi, kau akan membawaku kemana, Dinan?"

***

Aku tidak terlalu pandai dalam menentukan tempat kencan yang bagus. Jadi aku hanya membawanya ke tempat-tempat umum yang sering didatangi sepasang kekasih saja. Pertama aku membawanya ke tempat makan, lalu kami berjalan-jalan di kota, pergi ke game center dan menonton kemudian berkeliling lagi. Tapi meskipun begitu, aku yakin dia cukup bersenang-senang hari ini. Selama 5 jam ini, aku jadi cukup mengenal Anya juga. Dia benar-benar pribadi yang menyenangkan. Kuakui, kali ini, dalam waktu sesingkat ini, aku jatuh cinta padanya. Bukan hanya suka, tapi cinta. Jangan tanya kenapa, aku tidak tahu jawabannya. Lalu tanpa disadari, sudah hampir malam.

"Anya, aku lupa. Bagaimana kau bisa pulang hari ini? Tidak mungkin aku membiarkanmu pulang sendirian di malam hari, dan aku juga tidak mungkin membawamu ke rumahku." ujarku agak panik karena tidak memikirkan hal ini sebelumnya. Anya diam. Benar-benar diam, lama sekali. Aku yakin dia juga tidak tahu jawabannya. Bingung melandaku dan Anya sama sekali tidak membantu memikirkan jalan keluarnya.

"Dinan," ujar Anya pada akhirnya.

"Ya?"

"Bisakah... bisakah kau tidak usah pulang malam ini?" ia tampak tersendat. "Temani aku sampai besok pagi."

Aku kaget mendengar jawabannya. Otakku mulai berpikir yang tidak-tidak soal perkataan Anya. Tapi buru-buru dia menambahkan.

"Bukan seperti itu. Maksudku, kita hanya perlu berada di luar semalaman ini. Aku tidak mau pulang sekarang. Walaupun aku bisa pulang sendirian, tapi aku tidak mau pulang." ujarnya tegas.

"Tapi... kenapa?" aku masih belum bisa mengerti.

"Kumohon. Hanya hari ini, dan aku tidak akan pernah membuatmu repot lagi."

"Tapi..."

"Aku akan bilang pada orang tuaku kalau aku terpaksa menginap di rumah teman. Dan kau bisa melakukan hal yang sama. Kumohon, Dinan. Hanya hari ini."

Apa itu hal yang wajar dikatakan oleh seseorang yang baru pertama kali bertemu seperti ini? Aku tahu dia pacarku tapi... ini terlalu ganjil.

"Dinan.."

"Baiklah." potongku. "Hanya hari ini Anya. Dan jangan lupa kabari orang tuamu."

Dia melonjak kegirangan sampai membuatku bingung. Semenyenangkan itukah?

"Kalau begitu ayo kita lanjutkan kencan kita!" ujarnya.

Setelah perdebatan singkat tadi, kami, seolah tanpa lelah, mulai berjalan meyusuri kota lagi. Kami makan untuk kedua kalinya, kemudian memutuskan untuk pergi menonton lagi. Tapi yang dia lakukan sepanjang film diputar adalah tidur di bahuku. Tampak lelah. Membuatku bertanya-tanya. Jika lelah, kenapa masih ingin pergi denganku?

Selesai menonton kami benar-benar tidak punya kegiatan lain untuk dilakukan dan kami tidak tahu harus pergi kemana lagi. Aku tidak mau membawanya ke hotel atau semacamnya, aku takut ada yang melihat dan kami bisa jadi bahan perbincangan. Akhirnya kubawa dia ke taman kota. Mengajaknya untuk duduk. Selama beberapa saat tidak ada yang bicara, kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Dia mulai bersandar ke bahuku lagi. Aku sebenarnya agak enggan karena kupikir kami belum benar-benar saling mengenal, tapi aku berusaha tidak memedulikannya dan membiarkan kepalanya beristirahat. Kami masih belum saling bicara lagi. Terus, terus begitu sampai pagi hampir tiba.

"Nan..." Anya mulai berbicara, suaranya parau.

"Hmm?"

"Terima kasih untuk hari ini."

"Tentu."

Lalu ia berdiri perlahan.

"Kurasa aku akan pulang sekarang." ujarnya. Aku ikut bangkit.

"Kenapa tidak tunggu sampai matahari agak tinggi?"

"Tidak. Kurasa aku akan pergi sekarang saja."

Kami berdua diam.

"Dinan, mungkin kita tidak akan bertemu lagi." Aku yang semula menatap tanah langsung menatap wajahnya. Dia sedang menatap tanah.

"Apa maksudmu? Tentu kita bisa bertemu lagi. Lain kali aku yang akan pergi ke kotamu."

Dia mendongkak. Tersenyum.

"Tidak bisa. Ini mungkin yang terakhir."

"Kenapa?"

"Tidak apa-apa."

"Kenapa?!" tanpa sadar aku mulai membentaknya. Membentak orang yang baru sehari aku temui.

"Aku.. sakit."

Tidak. Batinku. Ini pasti bukan seperti yang aku pikirkan.

"Aku diberitahu waktuku tidak akan lama lagi, jadi aku lari kesini, ke kotamu, demi bertemu denganmu." dia masih tersenyum padaku, namun matanya berair. Seperti banyak sekali duka yang dia tahan di senyumnya. Aku diam. Benar-benar diam. Gadis ini pasti bercanda.

"Dinan.."

"Diam." ujarku frustasi. Dia seorang gadis penyakitan yang mengiyakan permintaanku untuk jadi pacarnya dengan mudah, lalu dengan mudahnya juga ia menemuiku disini, dengan mudahnya ia membuatku jatuh cinta padanya dan sekarang.. dengan mudah mengatakan bahwa kami tidak bisa bertemu lagi. Bagaimana aku bisa mempercayai semua hal yang terjadi secara mendadak ini?

Air mata Anya tumpah. Ia tidak lagi tersenyum.

Melihatnya, aku langsung membenamkan kepalaku di lehernya. Memeluknya erat-erat. Tangisnya benar-benar pecah kali ini. Akupun sadar, dia tidak berbohong. Dia harus pergi, benar-benar pergi.

"Aku mencintaimu Dinan." bisiknya sangat perlahan. Aku mengeratkan pelukanku. Aku tahu, yang satu itu pun bukan kebohongan. Saatnya mengucapkan selamat tinggal. 

***

note: Utakata dalam bahasa Jepang berarti singkat atau berjalan dengan cepat, sekilas.

Ah, gue gak tau jadinya bakal sepanjang ini :'

Friday, 15 July 2016

Gadis Yang Menunggu Bintang Jatuh (3)

Sudah bertahun gadis itu tak naik ke atap
Hanya untuk melupakan si bintang jatuh
Namun malam ini dia muncul kembali ditempat yang tidak diduga sehingga si gadis dapat melihatnya dengan jelas
Menyapa dengan hangat
Seolah hal yang telah mereka lalui selama ini tidak ada artinya

Dan gadis itupun sama saja
Setelah selalu ditinggal pergi
Masih saja berharap lagi
Dan sekarang malah duduk manis dihadapan si bintang jatuh yang hanya datang sekilas
 

Wednesday, 18 May 2016

A Note



"Aku menunggumu sepulang sekolah di belakang tempat parkir. Ada yang harus aku katakan." Bunyi kertas kecil berwarna merah muda itu. Nayla menempelkannya di bagian dalam pintu loker Dani kemudian berlalu beberapa detik kemudian.

***

Ia duduk di sebuah kursi batu panjang yang sudah berlumut. Menunggu Dani. Di tangannya tergenggam lima permen loli yang sudah ia bentuk seperti rangkaian bunga. Khas Nayla sekali. Tempat ini jarang didatangi orang jadi Nayla hanya sendirian dan memang itu yang dia inginkan.

5 menit.

10 menit.

30 menit.

45 menit.

Laki-laki itu belum juga datang. Sampai akhirnya satu jam sudah berlalu. Nayla mulai gelisah. Ia berkali kali duduk dan berdiri sambil berulang kali pula mengecek jam tangan biru yang melingkar di tangan kanannya. Tapi laki-laki itu benar-benar tak datang.

Nayla memutuskan untuk menengok ke area sekolah, memastikan jika laki-laki itu benar-benar tidak datang.

Akhirnya Nayla melihatnya.

Dani sedang berjalan kemari, melintasi lapangan parkir yang cukup luas. Tapi yang membuat hati Nayla mencelos adalah, ada seseorang di belakangnya. Olivia. Ternyata Dani sama sekali tidak ada niat untuk menghampiri Nayla. Dani berjalan menuju motor ninja merahnya diikuti Olivia. Kemudian mereka berdua naik dengan kedua lengan Olivia melingkar di perut laki-laki itu. Lalu mereka pun berlalu begitu saja, begitu cepat, sampai Nayla tidak mampu memproses apa yang ia lihat di depan matanya sendiri. Ia hanya tertegun, dan tenggorokannya tiba-tiba terasa sangat sakit.

***
Gadis itu melangkah gontai, masuk kembali ke area sekolah dengan seikat permen di tangannya yang mulai terlihat berantakan. Berjalan menyusuri lorong yang sudah sepi, menuju ke tempat loker berada.

Ia berdiri menatap loker Dani yang sejajar dengan kepalanya, kemudian saat tertunduk tak sengaja ia melihat sebuah kertas merah muda dengan posisi terbalik tepat didepan kakinya. Dipungutnya kertas itu, ia mulai membaca isinya:

"Aku menunggumu sepulang sekolah di belakang tempat parkir. Ada yang harus aku katakan."

Nayla menatap kertas itu nanar.

"Tidak sampai ya?" gumamnya sangat perlahan dan penuh penekanan. Senyum terkembang di wajahnya, mencibir dirinya sendiri yang merasa sudah sangat bodoh. Ia menunduk dalam-dalam, sedalam rasa kecewa yang kini membuncah dihatinya. Kemudian butir-butir bening mulai jatuh dari pelupuk matanya, langsung menjejak tanah, tanpa sedikitpun membuat pipinya basah.


***

Didedikasikan untuk Farrel, si cowok basket yang udah jadi pacar Luna :))

Sunday, 15 May 2016

Stargazing



Keluarga mereka sepertinya tidak ada yang memperhatikan jika ada dua orang yang lenyap dari pesta keluarga itu.

 ***

Tara berbaring di samping Chandra. Ternyata rumputnya benar-benar kering. Dan saat berbaring, ia langsung disuguhkan oleh pemandangan yang luar biasa.

Langit benar-benar bersih tanpa awan. Ditambah lokasi mereka yang cukup jauh dari cahaya (halaman belakang rumah Chandra benar-benar luas) membuat bintang-bintang benar-benar terlihat benderang.

"Woah." Tara berkata takjub.

"Indah kan? Aku juga sudah lama tidak kesini karena disini cukup menyeramkan jika sendirian."

"Kau harusnya sering-sering mengajakku kesini, Dra. Aku haus sekali melihat langit yang bersih seperti ini."

Chandra tertawa kecil.

"Aku baru sempat, dulu kan kau sombong sekali, menyapa saja tak pernah."

"Aku tidak menyapa bukan karena sombong tahu, aku malu. Apalagi kau kan laki-laki." Protes Tara. Chandra terdengar tertawa lagi. Kemudian hening menyelimuti mereka. Lama sekali. Samar-samar Tara mulai mendengarkan suara jangkrik yang kedengarannya banyak sekali. Lalu kembali fokus ke bintang-bintang.

"Kenapa kau suka bintang, Ra?" Chandra mencairkan suasana yang sempat beku. Tara terdiam sebentar, tidak menjawab.

"Tidak tahu. Mungkin karena orang tuaku juga suka bintang?" jawab Tara pada akhirnya. "Papa suka rasi Orion, mama suka rasi Crux. Aku suka Ursa."

"Aku suka Scorpio." potong Chandra.

"Bahkan namaku juga berarti bintang di bahasa Sansakerta. Tara Nilam Adriana. Tara berarti bintang Nilam adalah batu safir dan Adriana berarti gelap. Mungkin mereka ingin aku jadi cahaya yang bersinar dalam gelap?" tanya Tara entah pada siapa.

"Adik kembarku juga dinamai Lyra dan Aquilla, seperti nama rasi. Kau tahu kan? Mereka rasi yang bersebelahan dengan Cygnus. Orang tuaku bisa saja mengambil Cygnus menjadi nama, tapi mungkin itu terlalu aneh jika dipakai." lanjutnya. "Ah, maaf. Aku terlalu banyak bicara. Aku sering kelepasan jika sudah menyangkut hal ini."

"Tidak apa. Aku suka mendengarmu bicara." jawab Chandra. "Namaku juga berarti Bulan, kau tahu? Chandra Dipta Ananta, bisa diastikan Cahaya Bulan Tak berujung. Rasanya menarik sekali mengetahui nama-nama kita berasal dari nama benda benda langit."

"Dan kita adalah penikmat langit." lanjut Tara.

***

Friday, 13 May 2016

Blush!

"Dit!"

Adit berbalik dan melihat Jessika setengah berlari kearahnya.

"Gue cari lo daritadi." ujar Jessika agak terengah karena berlari menyusul Adit.

"Eh, ada apa? Lo kangen sama gue?" seloroh Adit, jahil.

"Apaan sih lo, geer! Gue bawa buku yang mau lo pinjem nih," Jessica mengangkat buku novel fiksi yang ia bawa sedari tadi.

"Wah, thanks! Kapan nih gue balikin?"

"Kalo itu terserah lo aja. Bebas. Tapi inget, bukunya gak boleh lecek, sampulnya jangan sampe kelipet, halamannya juga jangan. Ada pembatasnya kok! Pokoknya...."

"Iya.. iya.. bawel." Adit memotong sambil mengacak rambut Jessika seenanknya. "Pasti buku kesayangan lo ini gue jagain kok!"

Jessika diam. Wajahnya semerah tomat. Adit yang melihat perubahan itu juga ikut diam, mengamati. Kemudian setelah beberapa saat sadar apa yang sedang terjadi.

"G..gue.. gue cabut ya!" Jessika berbalik cepat dan berlari kecil meninggalkan Adit. Terlihat sekali jika cewek itu gugup. Adit berpikir keras. Dia sudah pernah memegang tangan Jessika, bahkan menggendongnya saat cewek itu pingsan di lapangan upacara. Tapi Jessika bersikap biasa saja. Dan saat adit memegang kepalanya, cewek itu... blushing? Adit tertawa. Jadi itu kelemahannya? Elusan di kepala?


***


Setelah sekian lama gak nulis akhirnya dapet ide juga, WAHAHA. Kali ini bukan gara-gara galau, tapi lagi baper. Baper produktif, lol. By the way, asalnya nama cewek disini 'Rere', cuma gue ganti karena beberapa alasan, (hai jess! haha). By the way lagi, cerita ini fiktif dan murni imajinasi liar gue~

Monday, 16 November 2015

Deg!

"Mau jadian sama aku nggak?"

Aku tersentak. Pesan singkat itu tertera dengan jelas di layar ponselku. Senyum bibirku mau tak mau tersungging tertahan.

Dia mengatakannya...

Aku membenamkan ponselku di atas dada. Pesannya tak kubalas. Aku hanya tersenyum seperti orang gila, menikmati tiap debar yang terasa lebih cepat dari biasanya.

Sunday, 8 November 2015

Tokoh Utama


Kamu adalah tokoh utama dalam ceritaku. Tapi aku hanyalah figuran dalam ceritamu.

***

~Biela Point of View~ 

Aku melangkah menuju pintu kelas dengan langkah tergesa. Rian sudah sekolah! Aku mengintip di balik pintu, punggung Rian terlihat menjauh. Aku tersenyum.
"Sudah sembuh ya?" bisikku. Wajahku memerah dan langsung tertawa keras-keras. Beberapa orang langsung menengok dan aku langsung menutup mulutku dengan kedua tangan.
"Ada apa sih?" tanya teman sebangkuku. "Pasti Rian." ujarnya tanpa menunggu jawabanku.
"Ketebak ya?" Kemudian aku tertawa-tawa lagi. Aku Biela, dan ini teman sebangkuku Adelia yang biasa kupanggil Adel. Dan yang lewat tadi... uhm... Rian. Jangan tanya aku siapa dia.
...
Oh, baiklah, aku tak tahan. Aku akan menceritakannya sedikit padamu. Rian Aditya, seorang siswa kelas 12, salah satu pemain basket terbaik di sekolah kami. Tinggi dan menawan. Dan aku menyukainya. Tapi Rian jahat! Ia tidak pernah mau menyapaku, padahal kami saling kenal. Aku benci sikapnya itu, tapi aku lebih benci pada diriku sendiri karena selalu berdebar jika bertemu dengannya, selalu memikirkannya, memimpikannya, cemburu pada orang-orang di sekitarnya dan tiba-tiba tersenyum jika ia ada. Aaaaaahhhhh! Dia ini membuatku kesal!
***
~Rian Point of View~

Aku masuk menuju gerbang sekolah dengan langkah gontai. Malas sekali. Harusnya aku pura-pura masih sakit saja. Lapangan basket ramai, ah, aku juga rindu main basket, mungkin pulang sekolah nanti aku akan main. Mungkin juga hari ini tidak akan terlalu buruk.
Baiklah, mungkin ini hari yang buruk. Dari tadi tak ada guru yang masuk ke kelas, aku tidak ada kerjaan dan kepalaku mulai pusing lagi. Lebih baik aku ke kamar mandi sebentar.
Aku melangkah menuju kamar mandi, udara begitu kering dan matahari begitu terik. Panas. Entah kenapa hal ini membuatku makin merasa buruk. Saat tengah melangkah, aku melihat dua orang gadis tengah berjalan ke arahku. Aku mengenal mereka. Yang itu Biela. Dan yang satunya...
"Adeliaaa!"
"Hai Rian!"
Aku dan Biela berucap berbarengan. Aku menatap Biela sebentar dan tersenyum. Kemudian seluruh perhatianku tertuju pada Adelia.
"Del, lo kok nggak jenguk gue sih kemarin? Biela aja datang." ujarku.
"Sori, Yan, gue ada rapat waktu itu. Tapi lo udah sehat kan? Semoga lo gak sakit lagi ya." jawab Adelia. Entah kenapa, perhatian sepele ini membuatku senang.
"Iya. Gue udah baikan. Thanks ya, Del." ujarku tulus. Kemudian Biela dan Adelia meninggalkanku. Dan terakhir yang kutahu, ini adalah salah satu hari terbaik yang pernah kualami!

***


Wednesday, 21 October 2015

Diam

 Gue ini, kadang suka males ngomong, soalnya gue tipe yang benci sama obrolan yang basa-basi. Makannya gue juga bakal nyaman banget kalo temenan sama orang yang bisa di ajak pergi berdua, tapi bisa nggak saling bicara, dan nggak jadi canggung juga..


                                                                                    ***

     Sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponselku.

     "Ketemu yuk? Aku kangen kamu."
     Dari Andre. Aku merengut membacanya.
     "Aku lagi namatin novel. Kamu tau kan aku nggak suka diganggu kalo lagi baca? Nanti deh ya?"
     Tapi Andre tidak menyerah.
     "Bawa aja bukunya, kita ke taman, aku nggak akan ganggu. Aku cuma pengen lihat kamu. Kujemput deh."
     Akhirnya aku menyerah. "Baiklah."

                                                                                   ***
      Akhirnya disinilah kami, duduk di atas rerumputan, di bawah sebuah pohon rindang di depan sebuah danau kecil. Panas matahari terik, namun suara air yang tenang dan hembusan angin yang perlahan membuat suasana menjadi begitu damai dan nyaman.
     Kami hanya diam. Lasya membaca novelnya dengan serius tanpa berusaha berbicara denganku. Sesekali ia tersenyum (bukan padaku, tapi pada novelnya). Sisanya wajahnya datar tanpa ekspresi. Melihatnya membaca seperti itu membuatku tahu seperti apa Lasya sebenarnya. Aku memperhatikan wajahnya diam-diam.
     Wajahnya bulat, matanya besar berbinar dan kulitnya kecoklatan. Sekilas ia tampak biasa saja namun mengingat dia adalah gadis yang kusayang, semuanya jadi berbeda. Aku menjadi begitu puas walaupun di pertemuan kami ini ia tak bicara padaku sama sekali. Melihatnya saja, aku sudah merasa cukup. Akhirnya, dalam ketenangan pikiranku, aku merebahkan tubuhku di atas rerumputan, menyandarkan kepalaku di kakinya dan memejamkan mata. Lasya nampaknya tidak keberatan. Aku senang karenanya. Angin masih berhembus kecil menerpa kulitku, sejuk dan membuat mengantuk, tapi aku tidak tidur.
     Dua puluh menit berlalu. Lasya meregangkan tubuhnya namun seperti berusaha tidak membuatku terganggu. Kupikir ia baru selesai membaca namun aku tidak merubah posisiku karena malas bergerak, angin-angin ini benar-benar memanjakanku. Namun tiba-tiba tangan Lasya mampir ke rambutku, kemudian ke pipiku. Ia mengelusnya perlahan dengan sangat lembut, dengan sayang.

     "Maaf ya mengabaikanmu. Aku tidak bermaksud begitu. Aku pasti cewek yang membosankan ya?"

                                                                                  ***

*P.S: Andre disini aku ambil dari nama andreru26. Ndre, aku pinjem namanya yaaa x))