Friday, 6 June 2025

27

 Hai, aku Mahda, dan sekarang sedang berusia 27 tahun.

Siapa sangka aku bisa mencapai usia yang sekarang? Aku saja tidak menyangka. Padahal rasanya baru kemarin aku jatuh dari ayunan di taman kanak-kanak, rasanya baru kemarin aku latihan tari jaipong untuk kegiatan pramuka di sekolah dasar, baru kemarin aku melakukan pagelaran perpisahan di SMP, pulang malam untuk rapat dan dicaci maki oleh banci, baru kemarin tidur di atas rumput hijau cikal bakal perumahan (yang tentu saja sekarang sudah dibangun) yang dekat dengan SMAku, menatap langit biru dan awan putih bersama Puspita. Atau bahkan rasanya baru kemarin aku masuk kuliah, tersesat di gedung BAAK yang bahkan tidak terlalu besar, menemui gebetan pertamaku di kampus, seorang kakak tingkat berkulit putih dengan inisial A.

"Sini saya bantu tunjukin jalan"

Aih.. aih..

Ternyata itu sudah 8 tahun lalu. D e l a p a n t a h u n l a l u. Gila. Ternyata hidup memang sesingkat itu. 

Banyak sekali yang sudah terlewati. Tentu saja banyak. Segala hal, naik turun, susah senang, banyak sekali yang terjadi sampai usiaku yang sekarang. Lucunya, banyak hal-hal yang terjawab di usiaku yang sedang memasuki 'dewasa' sepenuhnya ini. Diantaranya adalah, kenapa orang dewasa kalau minum kopi sedikit-sedikit? Yang pertama karena giung, yang kedua, rasanya lebih nikmat jika dinikmati sedikit-sedikit, tanpa alasan, memang enak. Walaupun tetap jadi kurang enak jika sudah dingin.

Kemudian kedua, kenapa orang dewasa sama-sama pulang sore, tapi tidak bisa meluangkan waktu dan seperti tidak punya tenaga untuk bermain? Karena capek. Kerja dengan otak jauh lebih melelahkan daripada kerja dengan otot. Ketika berkegiatan banyak melibatkan pikiran dan perasaan (juga fisik tentu), itu jauuuhhhhh lebih melelahkan, bermain memang bersenang-senang, tapi kalau lelah jadi tidak menyenangkan juga, kami sekarang lebih suka tidur.

Selanjutnya, kenapa orang dewasa tidak bisa menembus hujan untuk pulang ke rumah jika terjebak hujan di luar? Waktu aku masih sekolah dasar, aku sering pulang dengan keadaan langit hujan, tapi aku cuek saja, toh hanya basah, dan beberapa orang yang tanya "kenapa hujan-hujanan?", tapi ya tidak masalah, aku pulang dan langsung ganti baju. Menyenangkannya lagi kalau ada teman, kita bisa main air, atau lari-larian dan tertawa-tawa. Menyenangkan. Tapi hujan-hujanan di usia dewasa sudah tidak bisa dilakukan karena yang pertama dan utama, malu. Untuk apa hujan-hujanan, seperti tidak mampu beli payung atau menggunakan kendaraan yang lebih layak saja. Rasanya jarang juga ada orang dewasa yang sengaja hujan-hujanan dan jalan kaki, terlihat aneh. Kenapa tidak tunggu reda? Apa tidak masuk angin? Dan ya, kami rentan masuk angin. Tapi sejujurnya, di umur 27, menurutku hujan-hujanan masih menyenangkan, kalau saja orang-orang tidak peduli.

Tapi di umur saat ini, ada hal menyebalkan yang aku rasakan. Kenapa aku tidak punya pemikiran sekarang di usiaku yang dulu-dulu? Bahkan sampai kuliah, aku masih merasa, bego banget anjir lu dulu. Aku banyak mengetahui banyak hal dari 0. Aku tidak tahu apakah ada yang salah dari proses belajarku, tapi banyak sekali yang aku ketinggalan tahu, ketika orang lain sudah tahu. Walaupun pengetahuan orang berbeda-beda ya, tapi aku se-tidak-tahu itu. Mungkin karena aku kurang peduli dan peka terhadap lingkungan, mungkin karena aku merasa hidupku aman dan nyaman, tapi ternyata hal itu menyulitkan di saat dewasa.

Jadi mungkin saranku pada orang-orang yang masih di usia 20-an, tolong eksplor lebih banyak hal. Orang yang usianya masih muda, dibawahku, terutama ketika kuliah, ternyata banyak sekali yang bisa ditelusuri, dicoba, dijalankan dan kesempatan-kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali, terutama saat kamu sudah kadung lulus kuliah dan terpaksa bekerja nine to five sehingga waktu-waktu kosong itu sudah tidak ada lagi. Let me tell you, setelah bekerja, waktumu benar-benar habis lebih cepat, dan sudah sulit untuk eksplor apapun. Bisa, tapi sulit dan perlu ada hal-hal yang dikorbankan. Teori anak-anak punya banyak energi dan waktu tidak punya uang, dewasa punya energi dan uang tapi tidak ada waktu, dan masa tua yang punya banyak waktu dan uang tapi tidak punya energi itu benar adanya.

Aku rasa tulisan ini mulai membosankan.

Hanya saja, yang ingin aku sampaikan, banyak hal yang terjadi, dan semakin dewasa rasanya entah kenapa semakin sulit. Teman-temanmu berkurang, waktumu berkurang, tanggung jawabmu semakin besar dan semakin banyak. Satu pertanyaan lagi terjawab, kenapa orang dewasa selalu bilang nikmati waktumu, jangan terburu-buru ingin dewasa. Karena dewasa itu tidak enak! (kecuali bagian bisa punya uang dan bersenang-senang, itu juga jarang, hm).

Quarter life crisis juga benar adanya, banyak kebingungan yang dirasakan di umurku yang sekarang. Banyak pilihan-pilihan yang muncul, tapi ada kalanya tidak ada pilihan yang mudah. Bingung menentukan arah hidup mau kemana, karena masa depan tergantung aku pada saat ini, dan pilihan-pilihan yang kubuat. Hidupku banyak gelisah dan batinku selalu berbisik: aku tidak nyaman.

Aku yang dulu selalu bersemangat dan selalu mengingatkan diriku sendiri untuk bersyukur, sekarang tidak ada, karena bertahan pun rasanya susah payah sekali. Dan aku sendirian. Padahal banyak hal-hal menyenangkan yang aku alami, atau mungkin Karma Ura dalam buku Bliss benar, bahagia itu relasional, jadi sulit bahagia ketika aku bahagia sendirian. Entahlah.

Itu dulu saja, tapi aku tetap senang dan nyaman dengan hidupku kok! Aku cuma, agak kehilangan arah dan bingung saja. Tapi semoga hal-hal ini, pertanyaan-pertanyaan baru yang muncul di usiaku yang 27 tahun, akan terjawab juga kelak, dan tentunya, membuatku nyaman kembali.



Note: tulisan ini dibuat di sore hari yang sejuk, agak gelap karena mendung, disamping jendela, diluar sedang hujan rintik-rintik. Dan perasaanku sedang nyaman.

Monday, 13 May 2024

Bapaknya Kerja Apa?

Aku hampir saja jadi anak yang tidak bersyukur. 

Beberapa waktu ini, kalau melihat orang beruntung, terutama yang tajir melintir, refleks otakku bertanya: "Bapaknya kerja apa ya?"

Bapaknya kerja apa, kok bisa keluar negeri tiap hari? 
Bapaknya kerja apa, kok bisa makan enak setiap hari? 
Bapaknya kerja apa, kok bisa masuk sekolah bagus? 

Tiba-tiba pikiran itu melintir jadi, papaku kerjanya cuma tukang fotokopi, pekerjaan sebelumnya juga cuma buruh pabrik, pantas aja aku tidak bisa ini dan itu.

Kemudian kepelintir lagi. Apa harusnya aku tidak bersyukur dan menyalahkan papa? 

Aku hampir aja jadi anak yang durhaka. 

Papaku memang cuma tukang fotokopi, tapi beliau berhasil membangun rumah yang nyaman untuk kami tinggal, berhasil membelikan barang-barang yang aku mau, berhasil merayakan ulang tahunku setiap tahun dengan kado-kado kecil, berhasil membawaku ke gramedia untuk rekreasi, berhasil menyekolahkanku sampai S1 dan sekarang sudah bekerja dan mampu menghidupi diriku sendiri. 

Papaku dulu cuma anak seorang tukang bajigur, rela merantau, jauh dari keluarga untuk mencapai mimpi besarnya agar bisa kerja kantoran, berusaha menamatkan kuliahnya padahal sudah ditinggal lama dan nilai hampir C semua, berusaha memahami Bahasa Indonesia padahal awalnya hanya bisa bahasa jawa. 

Ia, sudah sangat berhasil dan sudah sangat berusaha agar aku bisa sejauh ini. Terima kasih ya, Pa. Aku akan lanjutkan perjuangan ini. Untuk aku, untuk papa, dan untuk masa depanku dengan orang-orang sekitarku.

Monday, 23 October 2023

Petualangan Sherina 2: Curhat Masa Lalu dan Review

Saya memiliki beberapa core memory dari masa kecil saya dan Petualangan Sherina juga masuk ke dalam salah satunya.


Saya ingat saat itu saya sedang mudik ke rumah alm. nenek di Banjarsari. Saya tidak ingat umur berapa, tapi di usia itu saya masih suka gelendotan ke papa saya, masih anak manja. Ketika itu saya ditawari untuk dipinjamkan CD Petualangan Sherina (yang saya baru tahu ternyata film itu sangat laris di bisokop). Petualangan Sherina diliris tahun 2000, tapi ketika saya pegang CD itu kemungkinan usia saya diantara 3-5 tahun berarti sekitar tahun 2001-2003 (karna saya ingat, ketika saya akan SD saya ingin seperti Sherina).


Pemilik CD itu adalah saudara saya, anak dari bibi yang saya panggi A Ferry (sampai sekarang masih belum menemukan cara minta maaf ke A Ferry karena nggak pernah ngembaliin CD itu sampe CD nya hilang/rusak). Singkat cerita, CD itu saya bawa ke rumah, termasuk CD lagu-lagu Sherina (yang salah satunya memuat lagu I Have a Dream featuring Westlife, yang sampai papa tulisin liriknya di buku katanya supaya aku bisa hafal sekaligus sekalian belajar bahasa inggris katanya).


Jujur saya tidak begitu ingat apa yang terjadi atau bagaimana respon saya setelah menonton film tersebut, yang saya ingat, saya suka lagu-lagunya, terutama lagu "Pelangiku", yang sering saya reka adegannya dengan diam di depan jendela ketika hujan, dan saya nyanyikan lagu itu sambil pura-pura jadi Sherina. Saya tidak ikut pakai plester dan bekal makan permen chach*, tapi saya cenderung suka dengan lagu-lagunya, termasuk lagu Andai Aku Tlah Dewasa yang dulu selalu malu jika saya nyanyikan di depan orang tua (wkwk). Saya juga jadi fans Sherina bertahun-tahun dan mencoba selalu mengikuti karir beliau. Saya juga mengikuti karirnya Derby, tapi nggak se-mengikuti karir Sherina. Setelah saya lihat ulang, Sherina di umur segitu, bisa nyanyi dan main film, ternyata emang keren banget, iya nggak sih? Yang paling baru dan paling terakhir, album Sherina yang saya ikuti adalah Tuna. Saya nggak paham perasaan ketika mendengar lagu-lagu di album Tuna, saya tidak begitu suka, tapi di sisi lain saya suka (iya saya juga nggak paham).


Selain hal-hal di atas, Petualangan Sherina juga (yang saya yakin semua orang sama dalam hal ini), memperkenalkan kita ke Bosscha Observatory. Saya menyimpan keinginan pergi ke Bosscha selama belasan tahun dan kemarin baru kesampaian. Mungkin yang ini akan saya ceritakan di postingan berikutnya.


Berikutnya, ternyata, setelah 23 tahun rilisnya Petualangan Sherina, mereka memutuskan membuat sekuelnya di tahun 2023, tahun ini. Saya sebenarnya tidak terlalu exited, hanya senang sekali(?) gimana ya bilangnya, atau mungkin saya memang exited, tapi exited yang biasa aja. Pasalnya, film ini kan udah lamaaaaaaaaaaaa banget, jadi saya nggak mau terlalu berekspetasi, saya nggak percaya film ini bisa sebagus film pertamanya, semacam itu. Tapi tentu saya tetap senang karena bisa melihat Sherina dan Sadam bareng-bareng lagi, ini yang bikin exited.


Filmnya rilis tanggal 28 September 2023, niatnya saya pengen nonton langsung karna penasaran, tapi karna mager (dan duit tipis), saya tunda ke tanggal 1 sekalian pergi main dengan temen-temen kuliah. Di sini jujur saya bete banget karna ketingalan filmnya 30 menit karna macet, gara-gara terlalu santai. Tapi keobatin banget sama filmnya dan jadi ada alasan buat nonton ulang wkwk.


Saya mutusin buat nonton ulang sendirian (karna saya pikir saya dan Petualangan Sherina itu pengalaman personal, saya pengen nikmatin ini sendirian). Dan ini diluar kebiasaan saya (yang sangat hemat dan sayang buat ngehamburin duit), saya nonton film bioskop lebih dari satu kali, kayaknya ini emang khusus buat Petualangan Sherina aja. Di kali kedua nonton, saya juga pilih lokasi dan jam tayang yang pake Dolby Atmos, biar lebih mantap.


Sebelum masuk ke review, saya mau marah-marah dulu, di kali kedua saya nonton film ini, ada satu geng yang duduk di row B belakang saya, dan kakinya gamau diem, banyak komentar, berisik, padahal dari yang saya denger, mereka udah kerja, tapi adab nya di umum astaghfirullohaladzim banget. Untung mood saya lagi bagus, pasangan sebelah saya juga berisik, sebagai pelajaran, kalau nonton sendiri lagi mungkin saya bakal pilih di row A aja. Buat orang-orang yang berisik dan gamau diem di bioskop, semoga kalian minimal tau kalau kalian itu norak ;(


Oke ini review saya untuk Petualangan Sherina 2.


Saya akan mulai dari pujian, saya SUKA BANGET film ini. Film ini berhasil bikin saya senyum-senyum sendiri, vibesnya juga hangat dan menyenangkan. Jujur belakangan saya kurang merasa happy di kantor, tapi setelah pulang nonton Petualangan Sherina 2, saya agak merasa hidup kembali, sampai pulang juga lagu-lagunya masih saya senandungkan. Seminggu full saya nonton interview mereka di media, dan itu jujur mewarnai hari-hari saya, jadi nggak membosankan gitu, kaya kalau fans kpop lagi nontonin idolanya, rasa 'menyenangkan' itu yang saya rasakan.


Tapi jika saya boleh komentar, sebenarnya film ini tidak se-seru Petualangan Sherina yang pertama. Dari segi premis sebenarnya sudah menarik, cuma ketika dieksekusi, menurut saya terasa ada yang kurang. Misalnya dari segi villain, Isyana sama Chandra udah punya vibes yang bagus sebagai villain, kemunculan mereka juga menghibur, cuma kaya kurang banyak(?), kurang jahat(?), karakter mereka menurut saya masih bisa di eksplor dan dibuat lebih kompleks, kalau di sini, mereka cuma bener-bener kaya tambahan aja biar ada sosok kaya 'Kertarajasa' dan Natasya. I mean, Kertarajasa sangat jauh lebih karismatik dari segi karakter. Menurut saya, Petualangan Sherina 2 terlalu fokus pada karakter utama. Betul kita sama-sama tau kalau kita memang ingin lihat Sadam dan Sherina, tapi dari segi plot jadi terasa kurang, walaupun dua karakter ini memang berhasil membuat kita serasa kembali ke masa lalu.


Alur ceritanya untuk saya terasa indah dan magical, tapi juga terasa 'mudah', maksudnya, segampang itu ngalahin penjahatnya, padahal saya yakin Syailendra dan Ratih bisa digali lagi karakternya dan diperbanyak scene nya. Ngalahin penjahatnya juga terasa klise, dan menurut saya harusnya Pinkan nggak semudah itu dikalahkan sama dua amatir wkwk, walaupun diceritakan mereka punya basic bela diri yang bagus. Initnya kekalahan villain untuk saya terlalu mudah.


Kemudian, buat saya, ada scene lagu yang terlalu panjang, saya paham ini film musikal, tapi menurut saya lebih bagus kalau ada cerita dari sudut lain yang diceritakan daripada memperpanjang durasi di lagu (maksud saya mungkin lagu di film bisa di cut, tidak perlu full). Ada yang bilang film ini durasinya kepanjangan, menurut saya nggak masalah asal konfliknya dibuat lebih jelas dan kompleks, pasti bakal lebih seru. IMO. Bukan saya meragukan Sherina, lagu-lagunya menurut saya bagus dan beliau scoringnya sangat-sangat oke luar biasa, cuma lebih ke komposisi filmnya aja yang menurut saya perlu dibenahi. Ada hal-hal lain yang menjadi plot hole buat saya, tapi cukup deh karena yang menurut saya yang paling major yang ini.


Intinya menurut saya, film ini terlalu fokus pada character development Sherina dan Sadam, betul hasilnya bagus sekali, tapi elemen-elemen lainnya jadi terlupakan, agak sayang. Tapi saya tetap suka sekali dengan filmnya, karena elemen nostalgianya memang se-'dapet' itu. Saya juga ingin memuji chemistry Sherina sama Derby, saya suka banget! Karakter mereka juga saya suka, charater development Sadam yang jadi jagoan, dan Sherina yang rese tuh realistis. Dan juga Isyana tuh sumpah, suka banget sama karakternya, karna lawakannya kena di saya. Selain itu, yang paling saya suka jujur adalah endingnya, ditutup dengan cantik, menurut saya endingnya sangat pas, cukup, nggak perlu digali lagi hubungan Sherina dan Sadam, seperti apa. Saya nggak bisa menggambarkan perasaan itu gimana, tapi jujur saya sayang banget sama film Petualangan Sherina. Kalau saya boleh berterima kasih, sumpah makasih banget buat Riri Riza, Mira Lesmana, dan pihak-pihak lain yang terlibat dalam film ini, baik Petualangan Sherina 1 ataupun Petualangan Sherina 2. Luar biasa banget pokoknya! Saya sampai nonton 2 kali loh! Saya yang pelit banget ini wkwk, karena memang mereka menyimpan banyak kenangan di benak saya. Terima kasih, terima kasih!


Cuma di sini saya menolak mereka dibuat sekuel lanjutannya, mungkin beberapa tahun lagi boleh, saya cuma takut vibes menyenangkan dari Petualangan Sherina ini cepat hilang, alias saya masih menikmati yang ke-dua. Kalau ada sekuel, takutnya tidak sesuai ekspetasi atau malah jadi membosankan. Gitu.


Sekian curhat dan reviewnya, salam banyak-banyak buat mas yayang yang udah aku pantengin nyaris sebulan ini ;) *wink

Wednesday, 16 March 2022

24

Today I'm turning 24!

It's not really exiting, tapi aku agak senang sedikit daripada hari hari biasanya.

Di pikiranku, ulang tahun masih sesuatu yang menyenangkan. Walaupun nggak ada pesta atau hadiah. Tapi ada sekelebat pikiran yang membuat aku jadi bersyukur.

Bersyukur masih diberikan kesempatan hidup.
Bersyukur masih bisa berkumpul dengan keluarga.
Bersyukur masih bisa makan.
Bersyukur punya teman-teman yang baik.

Ucapan yang datang ngga banyak, aku juga nggak berharap semua orang ngucapin. Tapi untuk orang-orang yang meluangkan waktu untuk ngasih ucapan selamat dan memberikan doa, I really apreciate that, thank you so much, really. Terutama untuk papaku tercinta. I cry when I read message from him, and I don't know why 😂. I just so grateful that he still there with me now, I love you so much pap!

Buat yang bela belain bangun dan ngucapin tengah malem, Kiki, makasih yaa. You make my mood up.

Itu aja.

Sunday, 6 March 2022

Ke Ujung Langit

Sejujurnya aku agak kaget dengan cara berpikirku yang sekarang, karena rasanya dulu aku secupu itu. Mungkin kuliah memang memberikan banyak pengaruh juga.

Apalagi sejak menjadi salah satu penerima beasiswa. Beberapa pola pikirku jadi berubah karena bertemu dengan banyak orang-orang yang hebat secara prestasi dan finansial (iya duitnya hebat).

Tapi ada beberapa yang paling terasa. Yang pertama, adalah walaupun di enggak enggak, ternyata punya duit itu bener-bener suatu privilege apalagi buat mengembangkan diri. Masalahnya adalah, anak-anak di djarum itu punya duit, dan punya kemauan. Loh kok masalah? Masalahnya adalah aku jadi iri, sekaligus marah ke orang-orang yang punya duit tapi ngga dimanfaatkan dengan baik. Ini nggak begitu berpengaruh ke hidupku selain aku jadi kepikiran buat menciptakan privilege buat aku di masa depan. That is one of my goals, at least, my children must being a privilege person financially. Nggak kaya emaknya yang selama kos beli makan ayam tepung di bagi dua, buat dua kali makan. He/she must have freedom to choose what they wanna do. Cause if I can't reach what I wanna do right now (to become free as an artist cause I'm too poor to stand to my dream), they have to get that freedom, so they can have a happy life (walaupun aku belum tau cara ke arah sana selain mengorbankan diri sendiri mati-matian, namanya juga harapan).

Dan yang kedua. Aku pengen pergi, ke semua tempat yang belum aku datangi, nyoba makanan-makanan yang belum pernah aku cicipi. It's one of my dream too (selain jadi fulltime artist).

Hal ini aku rasain sejak pertama kali naik pesawat buat terbang ke Surabaya. Kalau ngga dapet beasiswa, mungkin aku nggak akan pernah nyentuh Surabaya. Dari situ ada beberapa hal yang aku sadari, diantaranya, aku suka pemandangan dari pesawat. Liat langit bersentuhan sama laut, tapi gaada ujungnya. Seolah-olah langit lagi kasih tau: "Luas banget loh dunia, lo belum liat apa-apa kalo cuma diem di Rancaekek." A bit scary, but I love it. Coba hal baru selalu seram, tapi sekaligus seru.

Kemudian, perasaan itu juga muncul ketika aku ngobrol kedua kalinya sama teman-teman dari berbagai belahan di Indonesia. Kalau kata Rifad, dia nemu mini Indonesia di UI, kalau aku nemu mini Indonesia di djarum. Dari Aceh sampai Papua ada. Semuanya khas, dan kaya yang aku bilang, semuanya hebat-hebat. Fariska si Cici Jakarta, Sandra si bu dokter, Rahma si anak Fashion Festival tingkat internasional dan banyaaaak lagi. Denger semua pengalaman mereka, gimana mereka keluar kota atau keluar negeri, aku mau. Aku juga mau pergi dan lihat, sebenernya ada apa sih di luar sana? Aku mau lihat Raja Ampat tempat Lonny tinggal, aku juga mau lihat Gunung Botak yang sering Acel bangga-banggain. Ternyata dunia itu luas banget loh, bukan cuma Cicalengka, Rancaekek sama Setiabudhi. Sejujurnya aku nggak mau menetap di sini, aku mau keluar, cari tau hal baru, bersenang-senang, being free.

Tapi sejauh ini, dua harapan itu ngga sinkron sama sekali. Yang satu ngeharusin aku buat save money buat hal-hal yang lebih penting dan prioritas. Yang satunya ngarahin aku buat lebih milih beli pengalaman daripada buat kebutuhan yang bikin duit gakerasa abisnya buat apa. Bingung, iya, sedih, iya. Rasanya pengen jadi anak Bill Gates aja.

Gitu aja kali ya. Buat yang kebetulan baca, minta doanya ya supaya harapan-harapan itu bisa terkabul dan dipermudah jalannya. Gaada yang ga mungkin, mungkin. Thank you!

Thursday, 2 July 2020

Berubah

Dulu sekali, aku sedang bertemu dengan saudari jauhku, kami memainkan suatu permainan anak kecil yang membuat kami kelelahan namun tetap membuat kami senang setelahnya. Ia beda tiga tahun dariku, lebih tua dan kami kurang lebih hanya bertemu setahun sekali karena rumah kami beda kota. Hari itu cukup berkesan bagiku.

Setahun berikutnya aku mencoba mengajaknya bermain permainan yang sama karena kesan yang kudapat sebelumnya, tapi dia agak berbeda dan jauh lebih pendiam. Aku menjadi agak terganggu dengan sikapnya saat itu.

Diakhir permainan aku mengutarakan perasaanku seperti anak kecil yang polos. Kubilang aku rindu dirinya yang dulu. Tapi dia, tanpa menatapku malah berkata: aku yang dulu sudah tidak ada.

Aku termenung, ada rasa sedih yang menyelimutiku ketika selesai mendengarnya. Kami tak banyak bicara setelah itu.

Kemudian saat aku tumbuh dewasa, aku sadar, semua orang ternyata memang berubah. Entah karena bertambah usia, lingkungan yang berbeda atau hal lainnya. Apalagi setelah kamu terpisah jarak dengannya, perbedaannya akan jauh lebih terasa. Dan mereka tidak akan pernah bisa sama seperti ketika kali pertama kamu temui, apalagi setelah kamu menyadari bahwa ternyata kamu pun berubah.

Tidak ada yang salah. Semuanya wajar. Kupikir ada perubahan pun baik, tapi kadang bisa menyakitkan juga ya?

Sunday, 12 April 2020

Bahagia Karena Melihat Orang Lain Bahagia?

Sebelumnya aku mau menjelaskan sedikit kalau mulai sekarang aku ingin mencoba menuliskan kegelishan-kegelisahanku di blog. Beberapa waktu ini aku menyadari betapa banyak hal yang ingin aku tuliskan karena tidak bisa aku ungkapkan secara langsung. Biasanya kegelisahan-kegelisahan ini lebih banyak mengenai hal negatif, tapi aku akan mulai dengan sesuatu yang positif, aku pikir hal ini perlu untuk memperbaiki pola pikirku yang cenderung kelam.

Alasan lain aku mau menulis hal ini selain untuk produktif adalah tulisanku sulit untuk tembus ke media manapun karena terlalu payah, jadi biarlah aku produktif di blogku sendiri.

Kegelisahan pertama yang akan kutuliskan hari ini adalah mengenai aku yang baru sadar beberapa waktu ini, jika dalam beberapa waktu seringkali aku bahagia ketika melihat orang lain bahagia.

Kasus pertama ketika aku menyadari hal ini adalah ketika suatu hari, pacarku tengah mengantarku dalam perjalanan pulang ke rumah (Rancaekek) dan tiba-tiba saja motor yang kami kendarai agak bermasalah karena suaranya menjadi berbeda (setidaknya itu yang aku pahami, suara motor berbeda = motor bermasalah). Dan pacarku bilang motornya memang menjadi agak tidak nyaman untuk dikendarai. Saat itu sudah menjelang malam dan langit sudah menggelap, tidak biasanya dia mengantarku sampai malam begitu. Akhirnya mencegah mogok di tengah jalan kami memutuskan untuk kembali ke jalan yang telah dilewati sebelumnya karena ia melihat ada bengkel yang buka di sana.

Sampai di bengkel yang entah di daerah mana itu (aku buta jalan), ia langsung menemui seorang montir tua yang aku pikir mirip dia ketika tua nanti (paham motor, kurus, suka memakai jins dan kaos hitam). Mereka mulai membicarakan hal-hal tentang motor yang tidak aku mengerti. Aku sejujurnya tidak begitu suka bengkel, karena bengkel nyaris tidak pernah menyediakan tempat duduk untuk kami, para wanita (atau penumpang motor) sehingga kami harus berusaha mencari tempat duduk sendiri dan seperti yang kita ketahui bersama, ketika motor masuk bengkel, tidak mungkin kita hanya sebentar di sana.

Pacarku sendiri, setiap membengkel bersamaku, seringkali lebih memilih bersama motornya karena katanya takut bengkel melakukan hal-hal curang pada motornya, seperti mencuri perintilan motornya yang kecil-kecil tapi penting atau apalah. Dan aku terpaksa harus menyibukkan diri (yang terkadang aku juga ikut memperhatikan proses perbaikan motornya).

Saat itu sudah malam, aku terpaksa pulang terlambat dan harus menunggu berjam-jam sampai motor selesai diperbaiki, harusnya aku kesal bukan? Ternyata tidak. Aku menikmati setiap menitnya walaupun sesekali jenuh, dan yang paling membuatku bingung adalah ketika aku merasa senang ketika melihat pacarku, berdiri di samping motornya, mengobrol dengan montir dan tersenyum ketika melakukan obrolan yang hanya mereka mengerti sendiri, dan ketika pacarku bilang "Aku jadi punya kenalan baru di sini." aku juga ikut merasa senang, karena aku tahu segala yang berkaitan dengan motor membuat ia selalu tertarik.

Malam itu, ketika ia minta maaf karena membuatku terlambat pulang, aku hanya tersenyum dan bilang "Gapapa kok!".

***

Kasus kedua masih berkaitan dengan pacarku. Kami sering sekali teleponan ketika waktu senggang. Suatu hari ia sedang menonton serial kartun favoritnya, The Amazing World of Gumball. Pertama kali aku mencoba menonton kartun itu, responku adalah: "Apaan sih ga rame, gajelas, tokohnya aja gambarnya beda-beda, ngewa". Tapi pacarku suka sekali dengan kartun ini, ia sering tertawa dan berkata "Hahahaha, liat, ga jelas pisan". Aku menyimak dengan tatapan datar dan mulai berpikir apa kotak tertawaku rusak?

Tapi yang membuatku lagi-lagi bingung adalah, aku merasa senang mendengar dia tertawa. Dan aku selalu senang karena aku tahu dia sedang senang juga. Sampai sekarang pun aku suka sekali mendengar dia tertawa, walaupun bukan karena Gumball, kartun kucing aneh yang memiliki ayah seorang kelinci, ibu kucing, saudara perempuan kelinci dan ikan yang berkaki.

***

Selanjutnya adalah ketika acara UPI Bookpedia 3, dua tahun lalu (wah, aku sudah tua ternyata). Ketika itu kami harus memural dinding untuk melakukan promosi acara kami. Aku membantu proses mural dengan angkatan 2017 lainnya beberapa diantaranya adalah Yasmine dan Cintami. Kami bertiga sama-sama menyukai seni dengan cara kami masing-masing dan kami juga adalah orang-orang yang gagal memasuki jurusan seni karena kendala yang berbeda-beda. Ketika itu rasanya menyenangkan sekali bisa bekerja dengan mereka karena frekuensi yang sama (padahal dasarnya kami orang yang berbeda-beda).

Ketika itu, aku sedang berada di samping Yasmine, Mine, dia sedang mewarnai dinding dengan kuas, serius sekali, seperti bukan mine yang biasanya. Di situ rasanya aku bisa melihat, ia benar-benar menyukai hal ini. Kali ini tidak ada raut bahagia yang muncul, tapi raut wajah yang serius itu, aku tahu kalau ia sangat menyukai bidang ini, auranya berbeda. Aku teringat suatu kasus mengerikan yang menimpa mine karena ada kesalahpahaman, seseorang berkata kasar mengenai dia yang tidak bisa melakukan apa-apa (kata-katanya kasar sekali sampai aku tidak tega menyebutkannya), dan sampai membuat dia down. Tapi rasanya kata-kata itu tidak ada artinya lagi ketika aku melihat dia hari itu, dia punya aura sendiri, ketika ia sedang melukis, dan aku merasa dia lebih cantik ketika sedang melukis (terlepas dia memang cantik). Ini nyambung tidak ya dengan judul, aku rasa ia, aku tahu dia senang melukis dan aku senang ketika melihatnya melukis.

***

Kasus terakhir (sepertinya masih banyak tapi tidak mungkin aku sebutkan satu-satu kan), berkaitan dengan adikku yang brengsek.

Sejak aku berkuliah, aku jadi jarang ada di rumah dan hanya pulang seminggu atau dua minggu sekali karena kegiatan yang padat di kampus. Ketika pulang, aku nyaris selalu merasa, adikku senang, walaupun ia tidak menunjukkannya. Dan karena hal ini, aku selalu merasa aku butuh pulang (walaupun aku sedang tidak mau) karena aku perlu menemui keluargaku.

Ketika pulang, aku selalu mengusahakan untuk membawa sesuatu, minimal untuk adikku jika tidak bisa untuk semuanya karena aku ingin melihatnya senang ketika aku melemparkan Potabee ke kasur. Sesederhana itu aku bisa merasa tenang dan senang, dengan melihat setitik kebahagiaan orang lain.

Apa kalian pernah merasakan hal yang serupa? Aku ingin tahu.

Wednesday, 3 October 2018

Distinguished Gentleman’s Ride Bandung 2018 di Mata Cewek Cupu




Perpustakaan UPI- 30 Oktober 2018 kemarin yang bertepatan dengan hari minggu, saya diajak pacar saya untuk mengikuti sebuah kegiatan anak motor yang bernama Distinguished Gentleman’s Ride. Untuk saya yang selama ini hanya hidup di gua dan tidak pernah piknik kegiatan ini benar-benar asing. Sebenarnya kegiatan apa sih ini? Momotoran pake motor vintage? Terus apa?
Kemudian saya dijelaskan sedikit oleh pacar saya kalau ini merupakan acara rutin yang diadakan setiap tahun. Dia sendiri sudah mengikuti kegiatan ini sejak tahun 2016 ( yang berarti dia sudah tiga kali ikut). Awalnya saya hanya dijelaskan kalau kegiatan ini hanya kegiatan momotoran­ atau berkendara saja. Dia juga menjelaskan tipe-tipe motor yang bisa ikut dalam kegiatan ini.

naikmotor.com
Jadi kalau kalian pengguna motor bebek atau ninja, kalian tidak bisa mengikuti acara ini. Wayahna. Kemudian, dari penjelasan yang dipaparkan oleh pacar, saya mulai mencari informasi tambahan mengenai kegiatan ini di instragram dengan melakukan pencarian #DGRBandung. Dan yang saya lihat adalah sekelompok om-om yang sedang naik motor vintage (motor keluaran lama atau gaya jadul<?>). Dan yang saya pikirkan saat itu adalah: “Anjir, ini sih acara anak geng motor. Serem.”. Lalu saya menjadi agak ragu-ragu untuk mengikuti acara itu. Saya juga membaca aturan lainnya untuk mengikuti DGR, yaitu menggunakan dresscode setelan jas resmi. Lah terus saya harus pakai baju apa? Saya kan nggak mungkin pakai jas? Dan saya nggak punya baju dengan gaya vintage. Hal ini saya utarakan ke pacar yang dia jawab: “Nggak apa-apa, ikut aja.”. Dan akhirnya, dengan paksaan halus pacar saya dan menghindari membuat dia kecewa karena saya tidak ikut, sayapun memutuskan untuk ikut.

Minggu pagi, saya mandi dan akhirnya memutuskan untuk menggunakan kemeja putih, celana dan jaket jeans dan.. hanya itu. Baju yang saya harap nggak norak-norak banget diantara orang-orang yang pakai setelan. Ada beberapa kendala ketika pagi hari yang membuat kami agak terlambat, tapi tidak masalah. Sudah berpakaian rapi dan tinggal menggunakan kerudung, saya menunggu pacar saya menjemput.

Ketika saya keluar dari kosan pukul 10 pagi dan pergi ke jalan raya, saya terenyak. Ada puluhan motor yang saya lihat. Motor vintage butut yang hanya kerangka, sampai yang mengilap cerah saya temukan diantara pengendara-pengendaranya yang menggunakan jas atau rompi dengan kemeja dibagian dalam. Kebanyakan pengendara juga tidak menggunakan helm full-face, tapi justru tampilan seperti itu yang membuat acara ini menjadi sangat menarik. Maksud saya, menggunakan motor vintage berbarengan saja sudah menarik, ditambah dresscode ini tentunya makin menarik lagi. Saya seperti di bawa ke masa lalu. Orang-orang menggunakan setelan vintage yang biasanya hanya saya lihat di televisi atau poster-poster jadul.

Selain pergi dengan pacar, saya juga membuat janji dengan teman saya yang kebetulan pacarnya juga memakai motor custom. Saya mengajak teman saya atas dasar ketakutan saya sebelum acara. Agar saya tidak menjadi perempuan sendirian juga. Tapi kenyataannya, walaupun mayoritas pengendara adalah laki-laki, saya juga menemukan 1-2 pengendara perempuan, dan menurut saya ini cute sekali. Perempuan menggunakan setelan vintage diatas motor vespa klasik dengan helm half-face, berkendara sendirian. Benar-benar menarik untuk dipandang. Dan banyak pula ternyata yang mengajak pasangannya untuk ikut. Lebih lucu lagi melihat pasangan dengan dresscode yang senada. Memang sepele, tapi saya benar-benar terhibur melihat pemandangan seperti ini.

Titik kumpul para pengendara untuk tahun ini adalah di PINE HILL, Cibodas, Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Kawasan hutan di Jalan Maribaya itu benar-benar cocok untuk tempat berkumpul. Tempatnya dikelilingi pohon-pohon pinus tinggi yang membuat suasana menjadi cukup sejuk ditengah matahari yang super terik siang itu. Tempat parkirnya sangat penuh, dipenuhi oleh motor-motor klasik tentunya. Kami turun dari motor dan langsung pergi mencari teman-teman pacar saya yang kemudian ditemukan di dekat panggung kecil tempat MC dan bintang tamu singgah. Di sekeliling panggung terdapat banyak sekali truk penjual makanan yang harganya *ehem cukup mahal. Sebenarnya harganya normal sih, cuma ya.. begitulah.

Kegiatan kami sendiri disana sebenarnya tidak banyak. Saya sendiri hanya banyak duduk diam dan memperhatikan sekitar, sementara pacar saya banyak mengobrol banyak dengan kenalannya yang beragam usia. Yap, relasi orang-orang ini juga luar biasa. Selain memang karena hubungan laki-laki yang memang mudah akrab, mereka juga memiliki hobi dan kesukaan yang sama. Motor.

Acaranya sendiri dimulai sejak para pengendara tiba disana. Dibuka dengan 2 Master Ceremony yang berpakaian vintage, 1 laki-laki dan satu perempuan. Mereka menjelaskan sedikit mengenai acara yang akrab disebut DGR ini. Jadi, selain untuk mengumpulkan orang-orang yang menyukai motor klasik, acara ini juga ternyata merupakan acara amal yaitu dengan cara penggalangan dana yang bertujuan untuk penelitian riset mengenai kanker prostat dan kesehatan mental pria karena menurut data, sudah banyak pria yang meninggal karena kanker prostat dan bunuh diri akibat depresi. Mark Hawwa sendiri (pencetus ide adanya DGR) membuat kegiatan ini agar pandangan negatif orang-orang mengenai pengguna motor menjadi berkurang (termasuk saya sendiri yang sempat takut untuk datang ke acara ini, hahaha!).

Kemudian DGR Bandung 2018 juga mengundang bintang tamu Naif yang tampil dengan cantiknya menjelang sore hari. Lagu Piknik 72 yang dikumandangkan menjadi pembuka sore hari yang sejuk saat itu.

Kemudian setelah beberapa lagu dimainkan, kami memutuskan untuk pulang. Jadi hanya itu. Hanya kegiatan itu yang dilakukan di DGR, tapi berkesan cukup banyak untuk saya. Kami pulang di bawah langit oranye yang menandakan akan petang, saya duduk dibelakang pacar saya, di atas motor scramblernya, berkendara pulang dengan hati yang senang. Senang karena saya bisa datang ke sana untuk menambah pengetahuan dan pengalaman, senang pikiran-pikiran buruk saya tidak ada yang terjadi, senang bisa menjadi bagian dari acara ini. Saya juga belajar, jangan pernah takut untuk mencoba sesuatu yang baru, jangan takut untuk keluar dari zona nyaman, karena hasilnya tidak selalu buruk, malah penuh kejutan yang menyenangkan.

Sekian tulisan saya kali ini, semoga dapat menambah gambaran pembaca mengenai Distinguished Gentleman’s Ride (bagi yang belum tahu tentunya). Terima kasih atas waktunya untuk berkunjung!

Wednesday, 13 June 2018

Di Stasiun

Aku melangkah masuk ke stasiun kereta bagian dalam. Sebagian dari diriku bertanya-tanya, apa mungkin bisa aku bertemu dengannya hari ini.

Dia selalu pulang setiap hari senin naik kereta.

Ucapan Nata terngiang. Aku menghela nafas.

Malam ini membuat bulu kudukku merinding, aku mengusap-usap tanganku agar bisa menghangatkan diri. Stasiun juga sepi. Aku mencari tempat duduk dan pandanganku mulai berkeliling.

Tidak ada. 

Tidak ada. 

Tidak ada. 

Tidak ada. 

Mungkin dia memang tidak ada. Yaampun, Bunga. Kamu kira berapa orang yang suka pulang malam-malam begini? Jika tidak ada kegiatan di klub gambarku pun pasti aku akan lebih memilih pulang agak sore. 

Mendesah panjang pasrah, aku pun mengeluarkan buku sketku. Daripada mencari-cari yang tidak ada, lebih baik aku melakukan hobiku saja. Membuat sketsa.

Aku mulai memperhatikan lagi ke sekeliling, mencari objek yang sekiranya bisa aku gambar. Objek manusia yang tidak banyak bergerak. Kutemukan satu di depanku. Seorang wanita yang nampaknya lebih tua dariku, namun tetap masih muda. Mungkin usianya duapuluhan. Aku mulai menggoreskan pensilku.

Membuat garis, menebalkan garisnya, mengarsir.

Aku suka saat gambarku menjadi lebih hidup ketika aku mempertebal garisnya. Garis yang tegas membuat gambar menjadi lebih cantik. Wanita yang kugambar agak berbeda dengan aslinya. Wanita di depanku terlihat kaku dan agak gelisah karena ia terus memperhatikan jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Mungkin ia sedang mengejar waktu. Memberi perubahan sedikit, kuukir senyum di bibirnya. Hal ini membuat aku mau tak mau ikut tersenyum.

"Melihat orang tersenyum membuat ingin tersenyum juga ya?"

Aku menoleh secepat suara yang tiba-tiba muncul. Kavin tersenyum manis di sampingku. Detak jantungku berhenti seketika.

"Eh, hai.." aku dapat mendengar kegugupan dari suaraku sendiri dan merasakan rasa bahagia yang membuncah di dada. Dia Kavin. Potongan cerita masa SMA-ku. Orang yang pernah kuberi sketsa wajahnya diam-diam tanpa ia tahu sampai sekarang.

"Lama tak jumpa." ujarnya lagi masih dengan senyum yang sama. "Masih suka membuat sketsa ya?"

Aku tercengang.

Dia bilang apa?

"Haloo?"

Tangannya melambai-lambai ke depan wajahku yang kaku sepersekian detik. Bibirku menganga sedikit, berusaha mengeluarkan suara yang tetap tertelan didalam saking kagetnya.

Astaga. Dia tahu.

Tuesday, 10 April 2018

Kali-kali

"Kalian belum pernah ke bioskop? Ajak main lah kali-kali!"

Aku mencerna kata-kata tersebut susah payah. Apa ketika pacaran harus selalu nonton di bioskop? Atau makan di kafe?
Namun setelah menjalin hubungan selama beberapa hari ini, rasanya pertanyaan itu terjawab dengan mudah.

Tidak perlu.

Aku bukan orang yang punya budget banyak, dan nampaknya cowokku *cielah* juga tidak terlalu suka pergi ke tempat-tempat seperti itu (Kalau dilihat dari isi dompetnya sih). Tapi berani sumpah aku sudah cukup puas dan bahagia dengan keadaan yang seperti ini.

Aku suka ketika ia membelikan aku minum (yang seringnya jadi untuk berdua). Aku suka ketika dia mengantar-jemput ke stasiun (padahal menurutku ini merepotkan sekali). Aku suka ketika kami membeli nasi goreng satu porsi untuk berdua. Aku suka ketika kita hanya duduk di taman, aku bersandar pada pundaknya dan dia menggenggam tanganku. Aku suka ketika kita menonton film lama hasil download (tidak perlu ke bioskop!). Semua ini sudah sangat cukup. Bisa bersama dengan dia pun rasanya sudah seperti kemewahan yang sebelumnya tidak pernah aku rasakan.
Dan ya, tidak perlu ke bioskop.

Monday, 19 March 2018

Hujan di PKM

Jam sudah menunjukkan pukul 20.58 tapi hujan malam ini tidak memberi isyarat akan segera berhenti. Dingin mulai menusuk kakiku yang terkena cipratan air hujan, menjalar ke seluruh tubuh dan membuat metabolismeku turun. Kelaparan. Lampu jalan kekuningan yang berdiri tegak di antara pepohonanlah satu-satunya temanku di tempat ini. Pandanganku tertuju pada mobil-mobil yang berlalu lalang entah kemana tujuannya.

Malam hari, suara tetes hujan, petrichor, dingin yang menusuk, tidak membawa payung, sendirian, ah semoga tidak menjadi lebih buruk lagi.

Thursday, 1 February 2018

Gitar

Aku memandang gadis itu, senyumku tanpa sengaja sudah bertandang di wajah. Dia menatap tangan kanannya yang tak kunjung benar memainkan enam senar dengan nada berbeda itu.

"No! Not like that!" ujarku padanya sambil terkekeh.

"Oh, god. I think i can't handle this." ia ikut terkekeh. Ini yang aku suka tentang dia, dalam keadaan apapun, senyum semanis madu itu tak pernah hilang dari wajahnya.

Aku kembali menunjukkan langkah-langkah kecil agar dia mengerti bagaimana cara memainkan alat musik itu dengan benar. Ia mengangguk kecil dan mulai bermain lagi. Suaranya kini sudah mulai berirama. Aku terpejam sejenak, menikmati nada-nada indah yang terdengar dari petikan gitarnya.

"You heard that? I can! It sounds pretty good right?" ia tertawa. Aku membuka mataku perlahan.

Astaga.

Nada seindah manapun tidak bisa mengalahkan indah wajahnya ketika tersenyum hanya untukku.

Monday, 22 January 2018

Aku Ingin

Aku ingin bersama dengan seseorang, yang bisa aku genggam tangannya di tengah keramaian.

Saling tersenyum dan melempar tawa tanpa peduli dunia.

Dengan langit jingga sebagai penutup hari, dengan sorot lampu yang mulai dinyalakan satu-persatu.

Bersama tanpa kenal waktu.

Saturday, 9 December 2017

How You Met Your BF

Aku tidak mau jatuh cinta dengan seorang pria dengan cepat.
Jika sedang di toko buku, aku tidak ingin ada laki-laki yang begitu saja menghampiriku dan mengajak kenalan. Jika ada, dia pasti hanya melihat fisikku

Aku ingin bertabrakan dengannya tanpa di duga-duga. Buku favoritku jatuh dan ia akan berseru: "Kamu suka buku Rick Riordan juga?" lalu kami berbincang panjang hingga malam, memutuskan untuk makan di salah satu restoran fast food terdekat, atau mungkin... Warteg terdekat. Lalu bertukar id line dan berbincang lagi sampai bertahun-tahun kemudian

Thursday, 26 October 2017

Angin

Gadis itu berdiri di ujung tebing. Angin laut menghempaskan rambutnya sehingga berterbangan tak beraturan. Dress selututnya berkibar namun ia pegang erat dengan tangan kanannya agar tetap menutupi tungkai kaki. Tangan kirinya memegang topi lebar agar tidak terbawa angin pula. Menghampirinya, Bayu berjalan perlahan.

"Kamu tidak takut berdiri di sini? Tebing ini curam loh." Ia menggeleng. Pandangannya lurus kedepan. "Anginnya juga besar. Bisa-bisa kamu terbawa sampai jatuh ke laut sana." Bayu tertawa kecil, mencoba menggodanya. 

"Apaan sih, Bay." ujarnya datar, tapi terbit pula senyum di wajahnya. Mereka diam sesaat. Angin meniup rambut panjang gadis itu, disisirnya beberapa kali agar tidak begitu berantakan.

"Jadi, kamu mau mengatakan siapa orang yang kamu sukai sekarang? Bukannya tadi kamu bilang kamu akan cerita setelah kita sampai?" Bayu bertanya hit the point. Gadis itu, Naila, nampak agak kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan Bayu. Tingkahnya jadi aneh. "Belum mau cerit..?"

"Aku suka angin." ujarnya tiba-tiba, memotong ucapan Bayu. Bayu terlihat berpikir sejenak. Itu alasan ia ingin berdiri di atas tebing?

"Kamu suka angin? Bahkan itu bukan pertanyaan... ku."

Angin? 

Bayu terhenyak. Seperti baru menyadari sesuatu, ia menatap gadis itu cepat. 

"Aku suka angin," ujarnya lagi. Naila menatap Bayu lekat-lekat menunjukkan keseriusannya. Ia berkata dengan mantap sebelum akhirnya kembali menatap laut dan menurunkan pinggiran topi untuk menutup wajahnya. Semburat merah muncul di sana. Bayu memalingkan wajah untuk menutupi senyumnya. Pipinya juga memerah.

Wednesday, 18 October 2017

Anak SMA

Percayalah, anak SMA itu masih muda
Kamu masih bisa menjalin sebuah hubungan, lalu berakhir karena tidak cocok. Belum, masih jauh untuk bertahan seumur hidup dengan dia.

Anak SMA itu masih muda
Kamu masih bisa meluncur dari atas pinggiran tangga menuju ke lantai satu. Tidak perlu malu, karena hal itu masih layak dilakukan di usiamu.

Anak SMA itu masih muda
Jika mengantuk di jam istirahat atau di sela-sela pelajaran tanpa guru, tidur saja sepuasmu. Itu adalah kenikmatan tersendiri di jam-jam penuh peluh.

Anak SMA itu masih muda
Cobalah datang terlambat sesekali saat upacara bendera akan berlangsung. Rasakan tiap debaran ketika kamu panik jika tidak akan di bukakan gerbang depan.

Anak SMA itu masih muda.
Aku mohon, jangan dulu anggap kalian sudah dewasa, perjalanan masih panjang, lakukan hal-hal yang kalian suka bahkan jika tidak masuk akal. Karena setelah dewasa, kalian akan menyesal karena tidak melakukannya ketika SMA, masa kanak-kanak terakhirmu di dunia.

Wednesday, 1 February 2017

Hatsune Miku/Keeno - Glow (Lirik + Terjemahan Bahasa Indonesia)


Furisosoida tsumetai ame
Hujan yang dingin ini
Aoi kizu wo tokashitetta
Melelehkan lukaku yang biru
Itsuka miteta yuugurezora no
Diujung langit senja aku melihat masa lalu
Sumikko de warau dareka ga ita
Seseorang disana tersenyum 

Kizukanai uchi ni OTONA ni natte
Tanpa kusadari aku telah jadi dewasa
Kirei na uso kuchi ni dekiru hodo
Kebohongan indah mudah mengalir dari bibirku
Ironna itami wo oboete kita kedo
Aku tau bagaimana banyak rasa luka
Soredemo mada itai'n da
Namun yang ini masih terasa sakit 

Yuugure no namida ga desou na aka
Langit senja begitu merah membuat air mataku jatuh
Watashi no naka no kimi wo tokashite shimae
Tolong menghilanglah bayanganmu dari hadapanku 

Watashi no karada-juu kimi no kizuato de 
Aku dipenuhi oleh luka yang kau buat  
Afureteiru kara mou susumenai yo
Oleh karena itu aku tidak bisa pergi lebih jauh
Nee kiete keshite yo sou negatteita noni
Hey, dapatkah kamu menghilang? Itulah doaku
Doushite konnani kitsuku dakishimeteru no?
Tapi kenapa kau malah memelukku begitu erat? 

Kimi no koe ga tooku naru
Suaramu mulai memudar 
Nomikomaresou na aka
Tertelan oleh senja yang merah
Kitto kono mama kimi wo tokashite
Sekarang kau akan segera menghilang 
Yoru ni naru dake
Menyatu dengan malam 

Awaku somaru yubisaki ni koboreochisou na aka
Merah yang membias samar melewati ujung jariku
Watashi no naka no kimi wo ubatte shimau
Menyisihkan bayangan dirimu dalam diriku 

Chigereteku kumoma kara afuredasu namida
Air mataku jatuh diantara potongan awan yang retak 
Sukoshizutsu nijimu kimi ni gyutto shigamitsuita 
Aku mendekapmu erat seiring dengan dirimu yang memudar

***

Thursday, 29 September 2016

Utakata

Aku mengenal salah seorang gadis dari sebuah chat room di salah satu sosial media ternama. Aku sama sekali tidak tahu tentangnya, kecuali satu, bahwa dia gadis yang menyenangkan. Seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Selain di grup, aku mulai melakukan private chat juga dengannya. Berbicara dengannya selalu bisa menghiburku, padahal kami tidak saling mengenal dalam arti yang sebenarnya. Maksudku, kami belum pernah bertemu. Aku hanya tau wajahnya dari foto profil yang dia pakai. Di foto itu ia tampak tersenyum bahagia, rambutnya tergerai sampai bahu dan mengenakan topi rajutan berwarna merah marun. Selama kami melakukan chat, dia tidak pernah sekalipun mengganti fotonya itu. Jadi hanya wajah itu yang aku tahu.

Kemudian tanpa sadar aku mulai tertarik dengan gadis ini. Belum suka, hanya tertarik. Dan akhirnya suatu hari dengan niat 'iseng' aku bilang aku menyukainya dan ingin jadi kekasihnya. Tanpa diduga, dia mau. Niat main-mainku disambut baik olehnya. Alasannya cuma ada dua pikirku: 1. Dia terlalu polos; 2. Dia juga hanya main-main denganku. Tapi masa bodoh, hubungan ini akan tetap aku jalani.

***

Duabelas bulan kami melakukan pacaran jarak jauh. Ah, mungkin bukan pacaran jarak jauh, tapi pacaran di dunia maya. Kami tidak pernah bertemu karena jarak kota kami yang berjauhan. Selisih tiga kota. Tapi biarpun begitu, duabelas bulan ini sangat cukup untuk mengenal dia. Dia manis, lucu, perhatian dan hampir selalu ceria, walaupun kadang dia bisa jadi sangat pencemburu dan sering marah padaku. Tapi sungguh, walaupun begitu, aku benar-benar menyukainya kali ini. Benar-benar menyukainya.

***

Hubungan kami berjalan seperti biasa sampai suatu hari menjelang akhir tahun, ia tiba-tiba mengajakku bertemu. Aku kaget tentu.

"Aku belum bisa menemuimu. Jarak kota kita cukup jauh, Anya."

"Kalau begitu biar aku yang datang padamu."jawabnya dari seberang telepon dengan nada memelas. "Hanya berikan alamatmu."

"Jangan bercanda! Kau ini seorang gadis. Mana mungkin bisa pergi sejauh itu sendirian?" ujarku agak kesal karena sikap keras kepalanya.

"Aku tidak bercanda!" bentaknya. "Aku perlu menemuimu sekarang juga, Dinan!"

Aku menghela nafas. Ini tidak akan pernah selesai.

"Baiklah, akan kukirimi alamatku." jawabku pasrah. Toh, dia tidak akan benar-benar datang kan?

***

Esoknya, pukul satu siang, aku menerima pesan dari Anya.

'Aku ada di pusat kota. Bisa kah kau datang sekarang? Jangan lama!'

Aku terenyak. Apa-apaan ini. Dia benar-benar datang kemari?

Aku bergegas mengambil jaket, dan tanpa mengganti pakaianku aku langsung berangkat saat itu juga.

***

Anya ada di sana. Menggunakan dress selutut berwarna peach, kardigan putih dan topi rajut berwarna putih, sebuah tas kecil dan juga flatshoes. Dia melihatku dan melambaikan tangannya dengan bersemangat. Aku pun menghampirinya. Dan saat aku sampai, ia langsung menatap aku lekat-lekat.

"Jadi, ini pacarku?" ujarnya sambil tersenyum. Jujur, aku tidak bisa langsung menjawab. Aku salah tingkah dan mulai menggaruk belakang kepalaku yang tidak gatal.

"Aku kira kau tidak akan datang, Nan." ujarnya lagi. Aku mulai memperhatikannya. Dia tampak sama seperti Anya yang ada di foto, bedanya, rambutnya lebih pendek, jauh lebih pendek.

"Tentu saja aku harus datang." jawabku akhirnya sambil memalingkan tatapanku dari rambutnya. "Bagaimana kau bisa sampai disini? Apa kau sendirian?"

"Aku menggunakan aplikasi maps untuk bisa sampai disini. Agak sulit mendapat angkutan umum yang sesuai, tapi akhirnya aku sampai. Dan, ya, aku sendirian." ujarnya.

"Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?" jawabku masih agak bingung dengan sikapnya.

"Yang akan kita lakukan?" jawab Anya. "Tentu saja kau harus mengajak aku kencan! Aku jauh-jauh datang kemari bukan untuk dapat mengabaianmu, Dinan."

Jadi dia datang untukku. Ah, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak pernah mengalam situasi seperti ini. Dia membuat seolah jarak diantara kami selama ini tidak ada artinya. Kami baru bertemu, jelas aku sangat gugup sekarang. Tapi dia menunjukkan sikap biasa saja seolah dia teman lamaku. Tapi bagaimana pun juga sebagai laki-laki, aku harus memutuskan sekarang juga.

"Baik. Ayo kita kencan. Untung aku membawa dompet, kalau tidak aku pasti sudah mengemis padamu, Anya." candaku. Ia tertawa. Pendekatan pertama berhasil.

"Jadi, kau akan membawaku kemana, Dinan?"

***

Aku tidak terlalu pandai dalam menentukan tempat kencan yang bagus. Jadi aku hanya membawanya ke tempat-tempat umum yang sering didatangi sepasang kekasih saja. Pertama aku membawanya ke tempat makan, lalu kami berjalan-jalan di kota, pergi ke game center dan menonton kemudian berkeliling lagi. Tapi meskipun begitu, aku yakin dia cukup bersenang-senang hari ini. Selama 5 jam ini, aku jadi cukup mengenal Anya juga. Dia benar-benar pribadi yang menyenangkan. Kuakui, kali ini, dalam waktu sesingkat ini, aku jatuh cinta padanya. Bukan hanya suka, tapi cinta. Jangan tanya kenapa, aku tidak tahu jawabannya. Lalu tanpa disadari, sudah hampir malam.

"Anya, aku lupa. Bagaimana kau bisa pulang hari ini? Tidak mungkin aku membiarkanmu pulang sendirian di malam hari, dan aku juga tidak mungkin membawamu ke rumahku." ujarku agak panik karena tidak memikirkan hal ini sebelumnya. Anya diam. Benar-benar diam, lama sekali. Aku yakin dia juga tidak tahu jawabannya. Bingung melandaku dan Anya sama sekali tidak membantu memikirkan jalan keluarnya.

"Dinan," ujar Anya pada akhirnya.

"Ya?"

"Bisakah... bisakah kau tidak usah pulang malam ini?" ia tampak tersendat. "Temani aku sampai besok pagi."

Aku kaget mendengar jawabannya. Otakku mulai berpikir yang tidak-tidak soal perkataan Anya. Tapi buru-buru dia menambahkan.

"Bukan seperti itu. Maksudku, kita hanya perlu berada di luar semalaman ini. Aku tidak mau pulang sekarang. Walaupun aku bisa pulang sendirian, tapi aku tidak mau pulang." ujarnya tegas.

"Tapi... kenapa?" aku masih belum bisa mengerti.

"Kumohon. Hanya hari ini, dan aku tidak akan pernah membuatmu repot lagi."

"Tapi..."

"Aku akan bilang pada orang tuaku kalau aku terpaksa menginap di rumah teman. Dan kau bisa melakukan hal yang sama. Kumohon, Dinan. Hanya hari ini."

Apa itu hal yang wajar dikatakan oleh seseorang yang baru pertama kali bertemu seperti ini? Aku tahu dia pacarku tapi... ini terlalu ganjil.

"Dinan.."

"Baiklah." potongku. "Hanya hari ini Anya. Dan jangan lupa kabari orang tuamu."

Dia melonjak kegirangan sampai membuatku bingung. Semenyenangkan itukah?

"Kalau begitu ayo kita lanjutkan kencan kita!" ujarnya.

Setelah perdebatan singkat tadi, kami, seolah tanpa lelah, mulai berjalan meyusuri kota lagi. Kami makan untuk kedua kalinya, kemudian memutuskan untuk pergi menonton lagi. Tapi yang dia lakukan sepanjang film diputar adalah tidur di bahuku. Tampak lelah. Membuatku bertanya-tanya. Jika lelah, kenapa masih ingin pergi denganku?

Selesai menonton kami benar-benar tidak punya kegiatan lain untuk dilakukan dan kami tidak tahu harus pergi kemana lagi. Aku tidak mau membawanya ke hotel atau semacamnya, aku takut ada yang melihat dan kami bisa jadi bahan perbincangan. Akhirnya kubawa dia ke taman kota. Mengajaknya untuk duduk. Selama beberapa saat tidak ada yang bicara, kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Dia mulai bersandar ke bahuku lagi. Aku sebenarnya agak enggan karena kupikir kami belum benar-benar saling mengenal, tapi aku berusaha tidak memedulikannya dan membiarkan kepalanya beristirahat. Kami masih belum saling bicara lagi. Terus, terus begitu sampai pagi hampir tiba.

"Nan..." Anya mulai berbicara, suaranya parau.

"Hmm?"

"Terima kasih untuk hari ini."

"Tentu."

Lalu ia berdiri perlahan.

"Kurasa aku akan pulang sekarang." ujarnya. Aku ikut bangkit.

"Kenapa tidak tunggu sampai matahari agak tinggi?"

"Tidak. Kurasa aku akan pergi sekarang saja."

Kami berdua diam.

"Dinan, mungkin kita tidak akan bertemu lagi." Aku yang semula menatap tanah langsung menatap wajahnya. Dia sedang menatap tanah.

"Apa maksudmu? Tentu kita bisa bertemu lagi. Lain kali aku yang akan pergi ke kotamu."

Dia mendongkak. Tersenyum.

"Tidak bisa. Ini mungkin yang terakhir."

"Kenapa?"

"Tidak apa-apa."

"Kenapa?!" tanpa sadar aku mulai membentaknya. Membentak orang yang baru sehari aku temui.

"Aku.. sakit."

Tidak. Batinku. Ini pasti bukan seperti yang aku pikirkan.

"Aku diberitahu waktuku tidak akan lama lagi, jadi aku lari kesini, ke kotamu, demi bertemu denganmu." dia masih tersenyum padaku, namun matanya berair. Seperti banyak sekali duka yang dia tahan di senyumnya. Aku diam. Benar-benar diam. Gadis ini pasti bercanda.

"Dinan.."

"Diam." ujarku frustasi. Dia seorang gadis penyakitan yang mengiyakan permintaanku untuk jadi pacarnya dengan mudah, lalu dengan mudahnya juga ia menemuiku disini, dengan mudahnya ia membuatku jatuh cinta padanya dan sekarang.. dengan mudah mengatakan bahwa kami tidak bisa bertemu lagi. Bagaimana aku bisa mempercayai semua hal yang terjadi secara mendadak ini?

Air mata Anya tumpah. Ia tidak lagi tersenyum.

Melihatnya, aku langsung membenamkan kepalaku di lehernya. Memeluknya erat-erat. Tangisnya benar-benar pecah kali ini. Akupun sadar, dia tidak berbohong. Dia harus pergi, benar-benar pergi.

"Aku mencintaimu Dinan." bisiknya sangat perlahan. Aku mengeratkan pelukanku. Aku tahu, yang satu itu pun bukan kebohongan. Saatnya mengucapkan selamat tinggal. 

***

note: Utakata dalam bahasa Jepang berarti singkat atau berjalan dengan cepat, sekilas.

Ah, gue gak tau jadinya bakal sepanjang ini :'