Thursday 29 September 2016

Utakata

Aku mengenal salah seorang gadis dari sebuah chat room di salah satu sosial media ternama. Aku sama sekali tidak tahu tentangnya, kecuali satu, bahwa dia gadis yang menyenangkan. Seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Selain di grup, aku mulai melakukan private chat juga dengannya. Berbicara dengannya selalu bisa menghiburku, padahal kami tidak saling mengenal dalam arti yang sebenarnya. Maksudku, kami belum pernah bertemu. Aku hanya tau wajahnya dari foto profil yang dia pakai. Di foto itu ia tampak tersenyum bahagia, rambutnya tergerai sampai bahu dan mengenakan topi rajutan berwarna merah marun. Selama kami melakukan chat, dia tidak pernah sekalipun mengganti fotonya itu. Jadi hanya wajah itu yang aku tahu.

Kemudian tanpa sadar aku mulai tertarik dengan gadis ini. Belum suka, hanya tertarik. Dan akhirnya suatu hari dengan niat 'iseng' aku bilang aku menyukainya dan ingin jadi kekasihnya. Tanpa diduga, dia mau. Niat main-mainku disambut baik olehnya. Alasannya cuma ada dua pikirku: 1. Dia terlalu polos; 2. Dia juga hanya main-main denganku. Tapi masa bodoh, hubungan ini akan tetap aku jalani.

***

Duabelas bulan kami melakukan pacaran jarak jauh. Ah, mungkin bukan pacaran jarak jauh, tapi pacaran di dunia maya. Kami tidak pernah bertemu karena jarak kota kami yang berjauhan. Selisih tiga kota. Tapi biarpun begitu, duabelas bulan ini sangat cukup untuk mengenal dia. Dia manis, lucu, perhatian dan hampir selalu ceria, walaupun kadang dia bisa jadi sangat pencemburu dan sering marah padaku. Tapi sungguh, walaupun begitu, aku benar-benar menyukainya kali ini. Benar-benar menyukainya.

***

Hubungan kami berjalan seperti biasa sampai suatu hari menjelang akhir tahun, ia tiba-tiba mengajakku bertemu. Aku kaget tentu.

"Aku belum bisa menemuimu. Jarak kota kita cukup jauh, Anya."

"Kalau begitu biar aku yang datang padamu."jawabnya dari seberang telepon dengan nada memelas. "Hanya berikan alamatmu."

"Jangan bercanda! Kau ini seorang gadis. Mana mungkin bisa pergi sejauh itu sendirian?" ujarku agak kesal karena sikap keras kepalanya.

"Aku tidak bercanda!" bentaknya. "Aku perlu menemuimu sekarang juga, Dinan!"

Aku menghela nafas. Ini tidak akan pernah selesai.

"Baiklah, akan kukirimi alamatku." jawabku pasrah. Toh, dia tidak akan benar-benar datang kan?

***

Esoknya, pukul satu siang, aku menerima pesan dari Anya.

'Aku ada di pusat kota. Bisa kah kau datang sekarang? Jangan lama!'

Aku terenyak. Apa-apaan ini. Dia benar-benar datang kemari?

Aku bergegas mengambil jaket, dan tanpa mengganti pakaianku aku langsung berangkat saat itu juga.

***

Anya ada di sana. Menggunakan dress selutut berwarna peach, kardigan putih dan topi rajut berwarna putih, sebuah tas kecil dan juga flatshoes. Dia melihatku dan melambaikan tangannya dengan bersemangat. Aku pun menghampirinya. Dan saat aku sampai, ia langsung menatap aku lekat-lekat.

"Jadi, ini pacarku?" ujarnya sambil tersenyum. Jujur, aku tidak bisa langsung menjawab. Aku salah tingkah dan mulai menggaruk belakang kepalaku yang tidak gatal.

"Aku kira kau tidak akan datang, Nan." ujarnya lagi. Aku mulai memperhatikannya. Dia tampak sama seperti Anya yang ada di foto, bedanya, rambutnya lebih pendek, jauh lebih pendek.

"Tentu saja aku harus datang." jawabku akhirnya sambil memalingkan tatapanku dari rambutnya. "Bagaimana kau bisa sampai disini? Apa kau sendirian?"

"Aku menggunakan aplikasi maps untuk bisa sampai disini. Agak sulit mendapat angkutan umum yang sesuai, tapi akhirnya aku sampai. Dan, ya, aku sendirian." ujarnya.

"Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?" jawabku masih agak bingung dengan sikapnya.

"Yang akan kita lakukan?" jawab Anya. "Tentu saja kau harus mengajak aku kencan! Aku jauh-jauh datang kemari bukan untuk dapat mengabaianmu, Dinan."

Jadi dia datang untukku. Ah, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak pernah mengalam situasi seperti ini. Dia membuat seolah jarak diantara kami selama ini tidak ada artinya. Kami baru bertemu, jelas aku sangat gugup sekarang. Tapi dia menunjukkan sikap biasa saja seolah dia teman lamaku. Tapi bagaimana pun juga sebagai laki-laki, aku harus memutuskan sekarang juga.

"Baik. Ayo kita kencan. Untung aku membawa dompet, kalau tidak aku pasti sudah mengemis padamu, Anya." candaku. Ia tertawa. Pendekatan pertama berhasil.

"Jadi, kau akan membawaku kemana, Dinan?"

***

Aku tidak terlalu pandai dalam menentukan tempat kencan yang bagus. Jadi aku hanya membawanya ke tempat-tempat umum yang sering didatangi sepasang kekasih saja. Pertama aku membawanya ke tempat makan, lalu kami berjalan-jalan di kota, pergi ke game center dan menonton kemudian berkeliling lagi. Tapi meskipun begitu, aku yakin dia cukup bersenang-senang hari ini. Selama 5 jam ini, aku jadi cukup mengenal Anya juga. Dia benar-benar pribadi yang menyenangkan. Kuakui, kali ini, dalam waktu sesingkat ini, aku jatuh cinta padanya. Bukan hanya suka, tapi cinta. Jangan tanya kenapa, aku tidak tahu jawabannya. Lalu tanpa disadari, sudah hampir malam.

"Anya, aku lupa. Bagaimana kau bisa pulang hari ini? Tidak mungkin aku membiarkanmu pulang sendirian di malam hari, dan aku juga tidak mungkin membawamu ke rumahku." ujarku agak panik karena tidak memikirkan hal ini sebelumnya. Anya diam. Benar-benar diam, lama sekali. Aku yakin dia juga tidak tahu jawabannya. Bingung melandaku dan Anya sama sekali tidak membantu memikirkan jalan keluarnya.

"Dinan," ujar Anya pada akhirnya.

"Ya?"

"Bisakah... bisakah kau tidak usah pulang malam ini?" ia tampak tersendat. "Temani aku sampai besok pagi."

Aku kaget mendengar jawabannya. Otakku mulai berpikir yang tidak-tidak soal perkataan Anya. Tapi buru-buru dia menambahkan.

"Bukan seperti itu. Maksudku, kita hanya perlu berada di luar semalaman ini. Aku tidak mau pulang sekarang. Walaupun aku bisa pulang sendirian, tapi aku tidak mau pulang." ujarnya tegas.

"Tapi... kenapa?" aku masih belum bisa mengerti.

"Kumohon. Hanya hari ini, dan aku tidak akan pernah membuatmu repot lagi."

"Tapi..."

"Aku akan bilang pada orang tuaku kalau aku terpaksa menginap di rumah teman. Dan kau bisa melakukan hal yang sama. Kumohon, Dinan. Hanya hari ini."

Apa itu hal yang wajar dikatakan oleh seseorang yang baru pertama kali bertemu seperti ini? Aku tahu dia pacarku tapi... ini terlalu ganjil.

"Dinan.."

"Baiklah." potongku. "Hanya hari ini Anya. Dan jangan lupa kabari orang tuamu."

Dia melonjak kegirangan sampai membuatku bingung. Semenyenangkan itukah?

"Kalau begitu ayo kita lanjutkan kencan kita!" ujarnya.

Setelah perdebatan singkat tadi, kami, seolah tanpa lelah, mulai berjalan meyusuri kota lagi. Kami makan untuk kedua kalinya, kemudian memutuskan untuk pergi menonton lagi. Tapi yang dia lakukan sepanjang film diputar adalah tidur di bahuku. Tampak lelah. Membuatku bertanya-tanya. Jika lelah, kenapa masih ingin pergi denganku?

Selesai menonton kami benar-benar tidak punya kegiatan lain untuk dilakukan dan kami tidak tahu harus pergi kemana lagi. Aku tidak mau membawanya ke hotel atau semacamnya, aku takut ada yang melihat dan kami bisa jadi bahan perbincangan. Akhirnya kubawa dia ke taman kota. Mengajaknya untuk duduk. Selama beberapa saat tidak ada yang bicara, kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Dia mulai bersandar ke bahuku lagi. Aku sebenarnya agak enggan karena kupikir kami belum benar-benar saling mengenal, tapi aku berusaha tidak memedulikannya dan membiarkan kepalanya beristirahat. Kami masih belum saling bicara lagi. Terus, terus begitu sampai pagi hampir tiba.

"Nan..." Anya mulai berbicara, suaranya parau.

"Hmm?"

"Terima kasih untuk hari ini."

"Tentu."

Lalu ia berdiri perlahan.

"Kurasa aku akan pulang sekarang." ujarnya. Aku ikut bangkit.

"Kenapa tidak tunggu sampai matahari agak tinggi?"

"Tidak. Kurasa aku akan pergi sekarang saja."

Kami berdua diam.

"Dinan, mungkin kita tidak akan bertemu lagi." Aku yang semula menatap tanah langsung menatap wajahnya. Dia sedang menatap tanah.

"Apa maksudmu? Tentu kita bisa bertemu lagi. Lain kali aku yang akan pergi ke kotamu."

Dia mendongkak. Tersenyum.

"Tidak bisa. Ini mungkin yang terakhir."

"Kenapa?"

"Tidak apa-apa."

"Kenapa?!" tanpa sadar aku mulai membentaknya. Membentak orang yang baru sehari aku temui.

"Aku.. sakit."

Tidak. Batinku. Ini pasti bukan seperti yang aku pikirkan.

"Aku diberitahu waktuku tidak akan lama lagi, jadi aku lari kesini, ke kotamu, demi bertemu denganmu." dia masih tersenyum padaku, namun matanya berair. Seperti banyak sekali duka yang dia tahan di senyumnya. Aku diam. Benar-benar diam. Gadis ini pasti bercanda.

"Dinan.."

"Diam." ujarku frustasi. Dia seorang gadis penyakitan yang mengiyakan permintaanku untuk jadi pacarnya dengan mudah, lalu dengan mudahnya juga ia menemuiku disini, dengan mudahnya ia membuatku jatuh cinta padanya dan sekarang.. dengan mudah mengatakan bahwa kami tidak bisa bertemu lagi. Bagaimana aku bisa mempercayai semua hal yang terjadi secara mendadak ini?

Air mata Anya tumpah. Ia tidak lagi tersenyum.

Melihatnya, aku langsung membenamkan kepalaku di lehernya. Memeluknya erat-erat. Tangisnya benar-benar pecah kali ini. Akupun sadar, dia tidak berbohong. Dia harus pergi, benar-benar pergi.

"Aku mencintaimu Dinan." bisiknya sangat perlahan. Aku mengeratkan pelukanku. Aku tahu, yang satu itu pun bukan kebohongan. Saatnya mengucapkan selamat tinggal. 

***

note: Utakata dalam bahasa Jepang berarti singkat atau berjalan dengan cepat, sekilas.

Ah, gue gak tau jadinya bakal sepanjang ini :'

3 comments:

  1. Hikss story nya.. THE BESTT ;ww;)bb

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pernah ngalamin ya mas? '-')

      Delete
    2. Agak mirip dikit sih sama yang saya alamin.. =w=

      Delete